Jakarta – PT Samuel Sekuritas Indonesia mengimbau para investor untuk menerapkan strategi portofolio yang lebih defensif di tengah tekanan pasar yang masih membayangi aset domestik. Sentimen negatif ini dipicu oleh isu transparansi MSCI serta pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terus berlanjut.
Managing Director Samuel Sekuritas Indonesia, Tae Yong Shim, mengungkapkan bahwa pasar saham Indonesia saat ini cenderung tertinggal dibandingkan dengan tren global. Data perusahaan mencatat, hingga akhir April 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah terkoreksi hampir 20 persen secara year to date (YTD). Capaian ini sangat kontras dibandingkan indeks MSCI Emerging Market yang justru mencatatkan pertumbuhan sebesar 14 persen pada periode yang sama.
Fenomena ini diperparah oleh aksi jual besar-besaran yang dilakukan investor asing. Sepanjang empat bulan pertama tahun 2026, tercatat net foreign sell di pasar saham domestik mencapai US$ 2,9 miliar. Tak hanya di pasar ekuitas, minat asing pada pasar obligasi pemerintah juga menyusut ke angka 12,6 persen, yang merupakan level terendah sejak tahun 2006.
Kondisi tersebut mengindikasikan adanya pergeseran struktural pada minat investor global terhadap aset-aset di Indonesia. “Kami menyoroti dua faktor utama yang membebani pasar saham, yakni tuntutan MSCI terhadap transparansi yang lebih tinggi dan pelemahan rupiah yang persisten,” ujar Shim dalam acara Media Connect 2026, Kamis (7/5/2026).
Menyikapi volatilitas pasar tersebut, Samuel Sekuritas mengambil langkah taktis dengan mempertahankan posisi underweight pada sektor saham dengan alokasi rekomendasi sebesar 20 persen, jauh di bawah porsi netral yang biasanya berada di angka 40 persen. Untuk instrumen fixed income, perusahaan juga memberikan rekomendasi underweight dengan porsi 30 persen.
Sebaliknya, perusahaan sekuritas ini justru menyarankan investor untuk memperbanyak porsi kas dan aset kripto. Strategi alokasi yang disarankan meliputi porsi kas sebesar 30 persen yang ditempatkan dalam bentuk deposito dolar AS, serta alokasi sebesar 15 persen pada aset cryptocurrency dengan fokus utama pada Bitcoin. Sementara itu, untuk instrumen emas, alokasi yang disarankan relatif terbatas, yakni hanya sebesar 5 persen.
Langkah defensif ini diambil sebagai upaya mitigasi risiko bagi investor agar tidak terjebak dalam tekanan pasar yang belum menunjukkan sinyal pemulihan signifikan dalam waktu dekat. Strategi ini diharapkan mampu menjaga stabilitas aset di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi makro saat ini.







