Ecozone

Rupiah Menguat ke Rp17.333 Jelang Rilis Data Cadangan Devisa

34
×

Rupiah Menguat ke Rp17.333 Jelang Rilis Data Cadangan Devisa

Sebarkan artikel ini
b230ba7d515f78111f3344a2c3053117.jpg
b230ba7d515f78111f3344a2c3053117.jpg

Jakarta – Optimisme pasar terhadap potensi perdamaian di Timur Tengah menjadi katalis utama penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (7/5/2026). Rupiah ditutup menguat 0,31% ke level Rp 17.333 per dolar AS di pasar spot.

Senada dengan pasar spot, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia mencatat penguatan rupiah sebesar 0,24% ke posisi Rp 17.362 per dolar AS.

Sentimen positif ini dipicu oleh kabar bahwa Iran tengah meninjau proposal perdamaian dari AS terkait konflik di Timur Tengah. Adanya sinyal deeskalasi konflik ini memberikan angin segar bagi mata uang Garuda.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebutkan bahwa jika kesepakatan damai benar-benar tercapai dan jalur perdagangan di Selat Hormuz kembali dibuka, rupiah berpeluang untuk melanjutkan tren penguatan.

“Adanya optimisme atas kemungkinan berakhirnya perang di Timur Tengah menjadi sentimen penggerak utama pasar saat ini,” ujar analis mata uang, Ibrahim Assuaibi.

Ke depan, para pelaku pasar kini tengah menantikan rilis data ekonomi penting sebagai arah pergerakan mata uang selanjutnya. Dari domestik, investor mencermati laporan cadangan devisa Indonesia.

Sementara dari eksternal, fokus pasar tertuju pada data ketenagakerjaan AS, yakni Non-Farm Payroll (NFP) dan data klaim pengangguran awal. Data tersebut dinilai krusial karena akan menjadi pertimbangan Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga ke depan.

Untuk perdagangan Jumat (8/5/2026), Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.250 hingga Rp 17.400 per dolar AS.

Di sisi lain, Ibrahim memprediksi pergerakan rupiah akan cenderung fluktuatif namun berpotensi ditutup menguat di kisaran Rp 17.300 sampai Rp 17.340 per dolar AS.