Ecozone

Elon Musk Kian Sibuk Berpolitik di Tengah Rencana IPO SpaceX

13
×

Elon Musk Kian Sibuk Berpolitik di Tengah Rencana IPO SpaceX

Sebarkan artikel ini
e809623130ddb525abb9238ed5d7c844.jpg.jpg
e809623130ddb525abb9238ed5d7c844.jpg.jpg

London, Fenesia.com – Fokus publik terhadap langkah strategis SpaceX dalam melakukan penawaran umum perdana (IPO) yang masif justru teralihkan oleh aktivitas digital sang pendiri, Elon Musk, yang secara intensif terlibat dalam pusaran politik domestik Inggris.

Paradoks ini muncul ketika SpaceX sedang berada di puncak persiapan krusial untuk melantai di bursa saham dengan target valuasi yang sangat ambisius.

Alih-alih memprioritaskan komunikasi pasar bagi para calon investor, Musk justru menghabiskan energinya untuk merespons perdebatan tajam mengenai isu ras dan imigrasi di Inggris melalui platform X.

Analisis yang dilakukan oleh The Guardian, Senin (6/7/2026), mengungkap ketimpangan fokus yang mencolok antara kepentingan bisnis perusahaan dengan agenda politik pribadi sang miliarder.

Dia mencatatkan sebanyak 303 unggahan terkait isu ras dan imigrasi dalam kurun waktu 31 Mei hingga 12 Juni 2026.

Sebagian besar dari unggahan tersebut secara spesifik menargetkan dinamika politik yang sedang memanas di Inggris.

Ia hanya mengunggah 114 konten yang berkaitan dengan SpaceX pada periode yang sama, meskipun perusahaan tersebut sedang menuntaskan proses penggalangan dana mencapai USD 85,7 miliar.

Angka tersebut melampaui target awal perusahaan yang dipatok pada angka USD 75 miliar.

Ketegangan politik di Inggris sendiri dipicu oleh serangkaian aksi protes terkait kasus hukum Vickrum Digwa dan pembunuhan remaja bernama Henry Nowak.

Isu tersebut berkembang pesat menjadi perdebatan publik mengenai keadilan hukum dan narasi anti-kulit putih.

Kerusuhan di Belfast semakin memperkeruh situasi sosial di negara tersebut.

Musk memilih untuk memperkuat narasi dari tokoh sayap kanan, termasuk membagikan ulang konten yang menyuarakan deportasi migran.

Dia menegaskan posisinya dalam salah satu unggahan yang berbunyi, “Tidak ada hal lain yang penting jika peradaban runtuh.”

Keterlibatan yang dianggap provokatif ini memicu teguran keras dari Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer.

Dia menyatakan, “Musk kembali mencampuri politik kami dalam beberapa hari terakhir dengan berupaya memecah belah masyarakat. Itu bukan jati diri Inggris.”

Pemerintah Inggris menekankan bahwa masyarakat mereka tetap menjunjung tinggi nilai toleransi dan rasionalitas di tengah berbagai tragedi.

Aktivitas digital ini bukan kali pertama bagi Musk, mengingat kedekatannya dengan figur kontroversial seperti Tommy Robinson.

Ia bahkan pernah menyampaikan pernyataan tegas dalam sebuah siaran langsung, “Entah Anda memilih kekerasan atau tidak, kekerasan akan datang kepada Anda. Anda melawan atau Anda mati.”

Peneliti dari London School of Economics, Michael Vaughan, menyoroti pergeseran pengaruh ekonomi terhadap kebijakan global.

Menurutnya, “Musk menjadi semakin penting dalam politik Eropa ketika kekayaannya bertumbuh secara eksponensial.”

Ia menambahkan bahwa legitimasi yang diberikan oleh tokoh sekaliber Musk memberikan ruang amplifikasi bagi kelompok politik pinggiran.

Data dari Centre for Countering Digital Hate mencatat adanya lonjakan impresi konten yang disebarkan ulang oleh Musk.

Temuan tersebut juga mengidentifikasi kaitan antara unggahan tersebut dengan munculnya ratusan seruan kekerasan di kolom komentar pascainsiden Belfast.

Pengaruh Musk kini terbukti tidak lagi terbatas pada inovasi teknologi atau sektor dirgantara.

Ia telah bertransformasi menjadi aktor sentral dalam membentuk arus percakapan politik lintas negara yang sering kali memicu polarisasi di masyarakat.