Jakarta – Nilai tukar rupiah kian terpuruk hingga mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada penutupan perdagangan Rabu (3/6/2026), mata uang Garuda berada di posisi Rp 17.967 per dolar AS, mencatatkan pelemahan sebesar 0,71% atau Rp 127,5 dibandingkan hari sebelumnya.
Posisi ini tercatat sebagai rekor terlemah rupiah sepanjang sejarah. Tekanan yang menghimpit mata uang domestik dipicu oleh kombinasi sentimen negatif, baik dari sisi fundamental ekonomi dalam negeri maupun eskalasi ketegangan geopolitik global.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyoroti kenaikan inflasi Indonesia pada Mei 2026 yang menyentuh angka 0,28% secara bulanan. Lonjakan ini membuat Indeks Harga Konsumen (IHK) naik ke level 111,40 atau inflasi tahunan sebesar 3,08%. Menurut Ibrahim, kenaikan ini dipicu oleh fluktuasi harga pangan, energi, serta dampak pelemahan nilai tukar rupiah itu sendiri.
Selain masalah inflasi, menyusutnya surplus neraca perdagangan menjadi sentimen pemberat lainnya. Meski Indonesia mencatatkan surplus selama 72 bulan berturut-turut, surplus pada April 2026 yang hanya mencapai US$ 89,1 juta dinilai jauh dari memadai untuk menopang ketahanan nilai tukar di tengah tekanan eksternal.
Faktor geopolitik di Timur Tengah juga memperburuk kondisi pasar keuangan. Ketidakpastian pasokan energi muncul akibat blokade Selat Hormuz, menyusul konflik yang melibatkan operasi militer Israel di Lebanon Selatan, serangan rudal Iran ke Kuwait dan Bahrain, hingga respons militer AS di Pulau Qeshm.
Kondisi tersebut memicu lonjakan harga minyak mentah dunia yang kemudian memperkuat spekulasi bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan tetap mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama.
Melihat kondisi tersebut, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan terus berada dalam tekanan pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Nilai tukar mata uang Garuda diperkirakan akan bergerak pada rentang Rp 17.960 hingga Rp 18.030 per dolar AS.







