Jakarta – Sektor manufaktur Indonesia kembali mencatatkan fase ekspansi pada Senin (3/8/2026) dengan angka Purchasing Managers’ Index (PMI) yang menyentuh level 50,2 setelah sebelumnya berada di posisi 46,9 pada bulan Juni.
Dilansir dari S&P Global, kenaikan indeks ke atas ambang batas 50 tersebut menandakan adanya perbaikan kondisi bisnis yang didorong oleh peningkatan volume produksi untuk pertama kalinya sejak Februari 2026.
Peningkatan output tersebut terjadi seiring dengan mulai membaiknya kondisi permintaan pasar serta adanya penguatan kepercayaan dari para pelanggan.
Ekonom S&P Global Market Intelligence, Usamah Bhatti, menyatakan bahwa perusahaan mulai melihat tanda-tanda meningkatnya kepercayaan pelanggan, meski kenaikan harga masih membatasi laju ekspansi, kata Bhatti.
Data menunjukkan bahwa jumlah pesanan baru telah berhenti mengalami penurunan berkat adanya proyek-proyek baru yang mulai berjalan di berbagai sektor industri.
Meskipun terdapat sinyal positif, tingginya tingkat persaingan pasar serta lonjakan harga jual produk masih menjadi kendala utama bagi para pelaku usaha untuk mempercepat pertumbuhan.
Permintaan dari pasar luar negeri juga terpantau masih melemah dan mencatatkan tren penurunan selama lima bulan berturut-turut.
Seiring dengan peningkatan beban kerja, perusahaan manufaktur mulai kembali melakukan rekrutmen tenaga kerja setelah sempat melakukan pengurangan karyawan selama empat bulan sebelumnya.
Fenomena ini dipicu oleh peningkatan backlogs of work atau tumpukan pekerjaan yang mencapai laju tercepat sejak November 2025.
Di sisi lain, persediaan barang jadi terus mengalami penurunan karena produsen lebih memilih untuk memanfaatkan stok yang tersedia guna memenuhi pesanan yang masuk.
Aktivitas pembelian bahan baku oleh pelaku industri tercatat masih melemah selama lima bulan beruntun akibat tekanan harga yang tinggi serta kendala pada rantai pasokan.
Perusahaan juga cenderung menahan diri untuk menambah stok bahan baku karena menilai bahwa pemulihan permintaan pasar belum sepenuhnya stabil.
Terlepas dari berbagai tantangan biaya, tingkat optimisme pelaku usaha terhadap prospek industri dalam 12 bulan mendatang kini berada di level tertinggi dalam enam bulan terakhir.
Keyakinan pelaku industri tersebut didorong oleh ekspektasi pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi serta harapan bahwa tekanan harga bahan baku akan semakin mereda di masa depan.






