Berita

Petani Antisipasi Tantangan, Jaga Pasokan Sayur Puasa dan Lebaran

76
×

Petani Antisipasi Tantangan, Jaga Pasokan Sayur Puasa dan Lebaran

Sebarkan artikel ini
petani-sayuran-siap-jaga-pasokan-selama-puasa-dan-lebaran
petani sayuran siap jaga pasokan selama puasa dan lebaran

Jakarta – Petani sayuran di berbagai daerah di Indonesia tengah bersiap menjaga pasokan pangan segar menjelang Ramadan dan Idulfitri.

Namun, curah hujan tinggi menjadi tantangan utama.

Kondisi ini memicu penyakit tanaman dan mempengaruhi dinamika harga di pasar.

Cianjur – Petani sayur asal Cianjur, Didin Silahudin, mengatakan persiapan panen jelang Ramadan bukan hal baru.

Pola konsumsi masyarakat bisa diprediksi, terutama untuk komoditas seperti cabai, terong, dan timun.

“Kami dari jauh-jauh hari sudah membuat pola tanam dimana panen direncakan untuk di bulan puasa,” ujarnya.

“Umumnya untuk hari-hari besar seperti lebaran biasanya permintaan lebih tinggi,” lanjutnya.

Pati – Hal senada disampaikan Yustam, petani dari Pati, Jawa Tengah.

Petani di daerahnya telah memahami pola permintaan selama puasa dan lebaran.

Curah hujan tinggi memicu penyakit tanaman dan membatasi jam kerja.

“Kami berharap Pemerintah bisa menjaga agar harga jual hasil panen dapat stabil,” harapnya.

“Demikian juga dengan ketersediaan sarana produksi, seperti pupuk dan benih serta teknologi pertanian,” imbuhnya.

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mewanti-wanti agar sejumlah komoditas pangan, termasuk cabai rawit, diantisipasi.

Komoditas tersebut berpotensi memicu inflasi.

“Komoditas ini mungkin dapat kita segera antisipasi, karena kita sudah mulai memasuki bulan Ramadan,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini.

Bogor – Pakar pertanian IPB University, Prof. Bayu Krisnamurti, menyebut petani memegang peranan sentral dalam sistem pangan.

Terutama untuk pangan segar seperti sayur dan buah.

“Tanpa produksi dari petani, tidak akan ada pangan,” tegasnya.

Bayu menyebut sistem pangan Indonesia menghadapi tantangan struktural yang semakin berat.

Mulai dari krisis iklim, degradasi lahan, hingga minimnya infrastruktur.

Tantangan ini memerlukan pendekatan sistemik berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.

“Inovasi berbasis riset menjadi sangat penting, bahkan kritikal, untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut,” kata Bayu.

Inovasi di sektor perbenihan dan penanganan pascapanen menjadi kunci keberlanjutan.

Benih yang tahan kekeringan, genangan, atau mampu meningkatkan produktivitas akan sangat menentukan masa depan usaha tani.

Jakarta – Corporate Secretary PT East West Seed Indonesia (Ewindo), Faisal Reza, mengatakan industri perbenihan tak hanya menyediakan benih.

Namun juga memperkuat kapasitas petani melalui pendampingan.

“Kami memastikan petani memiliki akses terhadap benih sayuran yang adaptif dan produktif,” ujarnya.

“Sekaligus memberikan edukasi yang sesuai dan aplikatif untuk mendapatkan hasil yang optimal,” imbuhnya.

Benih yang tepat membantu petani menyusun perencanaan tanam dan panen secara lebih terukur.

Menjaga pasokan pangan bukan semata soal produksi.

Melainkan tentang bagaimana para aktor di dalamnya bekerja bersama.

“Ketahanan pangan nasional hanya bisa terwujud jika seluruh mata rantai mulai dari riset, industri, hingga petani saling terhubung dan saling menguatkan,” tutup Faisal.