Berita

Perang Timur Tengah Memicu Krisis, Rupiah Tertekan, APBN Terancam Jebol!

59
×

Perang Timur Tengah Memicu Krisis, Rupiah Tertekan, APBN Terancam Jebol!

Sebarkan artikel ini
harga-minyak-tembus-115-dolar-as,-ekonom-ingatkan-risiko-fiskal-indonesia
harga minyak tembus 115 dolar as, ekonom ingatkan risiko fiskal indonesia

Jakarta – Perang di Timur Tengah antara Iran dan AS-Israel diprediksi akan berlangsung lama. Bergabungnya kelompok Houthi mengancam penutupan Selat Bab al-Mandab.

Dampaknya, harga minyak mentah dunia diperkirakan melonjak. Indonesia perlu mewaspadai risiko dan dampaknya.

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan harga energi, khususnya minyak dan LPG, akan meningkat. Hal ini disampaikan pada Senin (30/3/2026).

Harga minyak mentah dunia saat ini menembus 115 dolar AS per barel. Angka ini jauh di atas asumsi APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel.

Lonjakan harga minyak mentah dunia akan membebani anggaran negara untuk subsidi dan kompensasi energi. Defisit APBN berpotensi melebar.

“Defisit APBN akan melejit, inflasi akan meningkat, daya beli masyarakat akan melemah,” tegasnya.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi melemah. Pada penutupan perdagangan Senin (30/3/2026), rupiah menembus Rp 17.002 per dolar AS.

“Rupiah berpotensi semakin tertekan. Jika tidak hati-hati, Indonesia bisa mengalami krisis fiskal yang dapat berujung pada krisis nilai tukar rupiah,” ungkapnya.

Tekanan terhadap rupiah disebabkan oleh situasi fiskal yang kurang solid sebelum perang Iran vs AS-Israel. Peperangan di Timur Tengah memperburuk nilai tukar rupiah.

Kapal tanker Shenlong berbendera Liberia tiba di Pelabuhan Mumbai, India, pada 12 Maret 2026. Kapal ini membawa minyak mentah dari Arab Saudi ke India melalui Selat Hormuz.

Iran mengizinkan kapal tanker minyak India melewati Selat Hormuz setelah pembicaraan diplomatik. Pembicaraan dilakukan antara Menteri Luar Negeri S. Jaishankar dan mitranya dari Iran, Abbas Araghchi.