Tasikmalaya – Ratusan kepala keluarga di Dusun Cipari dan Dusun Cipatat, Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, berada dalam kondisi krisis air bersih sejak akhir April lalu. Akibat kekeringan ekstrem yang melanda wilayah tersebut, sumur-sumur milik warga kini berhenti mengeluarkan air.
Masjid Jami Al Ihsan kini menjadi tumpuan utama bagi warga untuk mendapatkan air bersih. Rutinitas mengantre dengan membawa jeriken maupun galon di pelataran masjid pun dilakukan masyarakat setiap pagi dan sore hari demi mencukupi kebutuhan dasar seperti memasak dan mandi.
Dedeh Rohayati, salah seorang warga Dusun Cipari, mengaku sumur miliknya tetap kering meski sudah digali hingga kedalaman 10 meter. Padahal, sebelumnya air sudah bisa didapatkan hanya dengan kedalaman tiga meter.
Hal serupa dirasakan oleh Yayah, warga lainnya yang terdampak kekeringan hebat. Hampir dua bulan tanpa hujan membuat seluruh sumber air di sekitar tempat tinggalnya tidak lagi berfungsi, tuturnya.
Ia menambahkan, ketergantungan warga terhadap masjid terjadi karena aliran air dari pegunungan hanya tersedia di fasilitas ibadah tersebut.
Lonjakan jumlah warga yang mengakses air di masjid sempat menciptakan tantangan bagi pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM). Pengurus harus menyeimbangkan antara niat membantu warga dan keberlangsungan stok air untuk kebutuhan ibadah.
Ketua DKM Masjid Jami Al Ihsan, Uun Suhendar, menyatakan bahwa pihaknya tetap memberikan akses air bagi masyarakat. Sebagai langkah antisipasi agar kebutuhan wudu tetap terpenuhi, ia memberlakukan aturan pembatasan.
Uun menjelaskan, warga diwajibkan berhenti mengambil air 10 menit sebelum azan salat lima waktu berkumandang.
Menurutnya, kebijakan itu harus diterapkan karena keterbatasan pasokan air yang tersedia. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pengurus tetap membolehkan warga mengambil air mengingat tidak adanya sumber alternatif lain di desa tersebut.
Ia menambahkan, keputusan ini diambil lantaran air merupakan kebutuhan paling mendasar bagi masyarakat.
Berdasarkan data Pemerintah Desa Kertanegla, kekeringan ini memengaruhi 600 hingga 700 kepala keluarga. Kepala Desa Kertanegla, Bunyamin, mengungkapkan bahwa fenomena kekeringan di wilayahnya merupakan persoalan musiman yang berulang.
Bunyamin memaparkan, guna menjaga distribusi tetap merata, setiap keluarga saat ini dibatasi hanya boleh mengambil dua hingga tiga jeriken air per hari.
Ia menjelaskan, pemerintah desa telah melaporkan krisis air ini kepada Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya dan berharap bantuan tangki air dari BPBD segera didistribusikan.
Namun, hingga akhir Juni, bantuan yang dinanti belum juga datang. Bunyamin menegaskan, warga sangat mendambakan solusi permanen selain bantuan darurat.
Ia berharap pemerintah dapat membangun fasilitas sumur bor agar kebutuhan air warga di masa depan dapat terjamin secara berkelanjutan.
Selama hujan belum turun dan sumber air belum pulih, Masjid Jami Al Ihsan akan terus menjadi tumpuan utama bagi warga Desa Kertanegla untuk bertahan hidup.













