Ecozone

Pemerintah Optimistis Inflasi 2025 Terkendali, Daya Beli Masyarakat Terjaga

121
×

Pemerintah Optimistis Inflasi 2025 Terkendali, Daya Beli Masyarakat Terjaga

Sebarkan artikel ini
b941b9f03be89340391fb91acca6334e.jpg
b941b9f03be89340391fb91acca6334e.jpg

Jakarta – Pemerintah optimistis inflasi akhir tahun 2025 tetap terkendali, meski Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya kenaikan inflasi bulanan sebesar 0,64 persen pada Desember 2025.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, meyakini laju inflasi 2,92 persen secara tahunan masih berada dalam kisaran target 1,5 persen hingga 3,5 persen.

Pemerintah berupaya menjaga daya beli masyarakat dengan berbagai strategi. “Pemerintah menyakini bahwa kondisi saat ini tidak akan menyebabkan daya beli masyarakat tertekan,” ujar Susiwijono.

Salah satu langkahnya adalah pemberian bantuan sosial, perlindungan sosial, dan kebijakan fiskal yang mendukung konsumsi. Kebijakan ini meliputi PPN, transportasi, pangan, dan energi.

Selain itu, koordinasi antara pemerintah pusat, daerah, dan Bank Indonesia terus dilakukan melalui strategi 4K: Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

Kenaikan inflasi pada akhir tahun lalu didorong oleh meningkatnya permintaan selama libur sekolah, Natal, dan Tahun Baru. Namun, kondisi ini terjadi di tengah pasokan yang terbatas akibat belum masuk masa panen. Gangguan pasokan dan distribusi juga dipicu oleh cuaca ekstrem dan banjir, terutama di wilayah Sumatera.

Meski demikian, pemerintah memprediksi tekanan inflasi pangan bersifat sementara. Efek musiman akhir tahun diperkirakan mereda setelah libur usai, dan gangguan distribusi akibat banjir akan berkurang seiring pemulihan jalur pasokan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal, menekankan perlunya langkah cepat pemerintah untuk menahan laju inflasi. Menurutnya, komoditas pangan menjadi penyumbang utama inflasi, terutama bahan-bahan yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat.

Bank Mandiri memproyeksikan inflasi pada awal tahun 2026 akan berlanjut. Tim Ekonomi Bank Mandiri dalam EconMark memprediksi inflasi Januari-Februari 2026 berada di kisaran 3,5-4,0 persen secara tahunan. Hingga akhir 2026, inflasi diperkirakan berada di posisi 2,78 persen secara tahunan.

Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menjelaskan peningkatan inflasi di awal tahun 2026 dipicu oleh beberapa faktor, seperti kenaikan upah minimum, permintaan program Makan Bergizi Gratis, diskon listrik pada 2025, perayaan Idul Fitri, peningkatan pengeluaran rumah tangga, dan faktor musiman.

Andry mengingatkan pemerintah untuk menjaga distribusi dan harga pangan, terutama di kuartal I saat puasa dan Lebaran. Tantangan inflasi sebenarnya terletak pada kenaikan harga pangan, sehingga menjaga pasokan pangan menjadi kunci utama.

Berdasarkan laporan BPS, inflasi didorong oleh kenaikan harga sebagian besar indeks pengeluaran. Komoditas yang mengalami inflasi antara lain cabai merah, cabai rawit, beras, ikan segar, daging ayam ras, telur ayam ras, bawang merah, kelapa, kopi bubuk, wortel, minyak goreng, sigaret kretek tangan, sigaret kretek mesin, sewa rumah, tarif air minum PAM, bahan bakar rumah tangga, bensin, mobil, akademi / perguruan tinggi, dan emas perhiasan.

Sebaliknya, komoditas yang menyumbang deflasi tahunan antara lain tomat, bawang putih, jengkol, daging babi, sabun cair/cuci piring, pengharum cucian / pelembut, sabun detergen bubuk, tarif kereta api, telepon seluler, dan Sekolah Menengah Atas.

Secara bulanan, kenaikan harga cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, ikan segar, telur ayam ras, beras, minyak goreng, bawang putih, cabai hijau, sawi putih, kangkung, bayam, kelapa, bensin, angkutan udara, angkutan antar kota, dan emas perhiasan menjadi pemicu utama inflasi. Sementara itu, cabai merah menjadi satu-satunya komoditas yang memberikan andil deflasi bulanan.