Jakarta – Peace Architecture and Conflict Transformation Alliance (PACTA) secara tegas mengutuk aksi pembunuhan terhadap pilot maskapai AMA, Nicholas F. Goselin, yang dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM).
Organisasi tersebut menilai tindakan eksekusi terhadap warga sipil di zona konflik merupakan pelanggaran berat terhadap Konvensi Jenewa.
Peristiwa penyerangan tersebut terjadi pada hari Kamis, 2 Juli 2025.
Pesawat yang dikemudikan Nicholas F. Goselin lepas landas dari Bandara Wamena menuju Bandara Ipdeheik di Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Pesawat tersebut mendarat di lokasi tujuan pada pukul 06.46 WIT.
Tak lama setelah mendarat, kelompok bersenjata Kodap XVI TPNPB-OPM melakukan serangan mematikan terhadap pesawat tersebut.
Akibat insiden ini, pesawat terbakar dan pilot dinyatakan tewas tertembak di lokasi kejadian.
Ketua PACTA Finland, Juha Christensen, menyatakan duka cita mendalam atas tragedi kemanusiaan yang menimpa Nicholas F. Goselin.
“Kami sangat berduka atas kematian tragis pilot Nicholas F. Goselin dan berdiri dalam solidaritas penuh bersama keluarganya, serta mengutuk tindakan kekerasan yang tak berdasar ini,” ujar Juha dalam keterangan resmi, Jumat, 3 Juli 2025.
Ia menegaskan bahwa eksekusi warga sipil tak bersenjata adalah kejahatan moral yang sangat serius.
Juha menekankan bahwa serangan terhadap pilot sipil di Papua telah terjadi berulang kali dan harus dihentikan segera.
Ia menyoroti daftar panjang korban pilot sipil yang tewas dalam konflik serupa di tanah Papua.
“Ini menjadi saat yang tepat untuk menyampaikan belasungkawa terdalam kami kepada keluarga dan rekan-rekan Kapten Egon Erawan serta Copilot Baskoro yang tewas pada 11 Februari 2026 di Korowai, Papua Selatan,” ungkap Juha.
Ia juga mengenang pilot Glen Malcolm Conning yang tewas pada 5 Agustus 2024 di Mimika, Papua Tengah.
Juha, yang memiliki pengalaman 40 tahun dalam resolusi konflik, mendesak TPNPB-OPM untuk menghentikan praktik penyerangan terhadap warga sipil.
Menurutnya, tindakan tersebut secara nyata melanggar hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan universal.
Pihak PACTA juga mendesak Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk terus mengupayakan inisiatif dialog.
Dialog dipandang sebagai satu-satunya jalan keluar untuk mengakhiri siklus kekerasan yang terus berulang di Papua.
Juha sebelumnya dikenal sebagai fasilitator independen dalam pembebasan pilot Susi Air, Philip Mehrtens, yang diculik sejak Februari 2023 hingga akhirnya dibebaskan pada September 2024.
Sementara itu, aparat keamanan saat ini tengah merespons insiden tersebut dengan langkah tegas.
Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III, Letjen TNI Lucky Avianto, mengonfirmasi bahwa operasi pengejaran sedang dilakukan.
TNI terus mengumpulkan petunjuk di lapangan serta melakukan identifikasi terhadap para pelaku penembakan.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya penegakan hukum terhadap kelompok separatis yang bertanggung jawab atas kematian pilot Nicholas F. Goselin.







