Jakarta – Potensi ekonomi mudik Ramadan 2026 diperkirakan mencapai Rp417,20 triliun.
Angka ini merupakan proyeksi optimistis dari Institute for Demographic and Affluence Studies (IDEAS).
IDEAS juga memproyeksikan potensi ekonomi mudik dalam skema moderat, yaitu Rp347,67 triliun.
Mudik menjadi momentum konsumsi terbesar dalam siklus ekonomi tahunan Indonesia.
Peneliti IDEAS, Agung Pardini, menjelaskan perhitungan menggunakan pendekatan berbasis desil.
Tujuannya adalah untuk memetakan perilaku konsumsi masyarakat.
Metode ini membagi populasi ke dalam sepuluh kelompok berdasarkan tingkat pengeluaran.
Tujuannya memberikan gambaran rinci terkait partisipasi mudik dan dampak ekonominya.
IDEAS memperkirakan sekitar separuh populasi Indonesia (281 juta jiwa) akan mudik.
Partisipasi tidak merata karena dipengaruhi kemampuan ekonomi.
Kelompok desil terbawah hanya sekitar 40 persen yang mudik.
Sementara kelompok tertinggi bisa mencapai 60 persen.
“Semakin tinggi tingkat pendapatan, semakin besar peluang seseorang untuk berpartisipasi dalam mudik,” kata Agung.
Mudik bukan hanya tradisi sosial, tetapi juga aktivitas ekonomi yang dipengaruhi daya beli.
Kesenjangan pengeluaran antar kelompok terlihat tajam.
Rata-rata pengeluaran bulanan kelompok terbawah dan tertinggi berbeda hampir sepuluh kali lipat.
Namun, kelompok berpendapatan rendah mengalokasikan porsi pengeluaran yang lebih besar untuk mudik.
Kelompok bawah menghabiskan sekitar 200 persen dari konsumsi bulanan untuk mudik.
Sementara kelompok atas sekitar 120 persen.
Kondisi ini menunjukkan beban ekonomi yang lebih berat bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
“Kelompok bawah cenderung harus mengorbankan porsi pendapatan yang jauh lebih besar untuk bisa mudik,” ujar Agung.
Kontribusi terbesar terhadap total perputaran ekonomi mudik tetap datang dari kelompok menengah hingga atas.
Kelompok desil 6 hingga desil 10 menjadi penopang utama dalam skema moderat.
Temuan ini memperlihatkan bahwa kekuatan ekonomi mudik tidak hanya ditentukan oleh jumlah pemudik.
Kelas menengah menjadi kunci karena memiliki kapasitas belanja yang cukup besar.













