Ekonomi

MTEL Segera Rampungkan Merger Dua Anak Usaha Usai RUPS

16
×

MTEL Segera Rampungkan Merger Dua Anak Usaha Usai RUPS

Sebarkan artikel ini
654472d43e2d2743f596bca1edae9c8b.jpg
654472d43e2d2743f596bca1edae9c8b.jpg

Jakarta – PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel (MTEL) tengah mematangkan langkah strategis untuk melakukan penggabungan usaha atau merger dengan dua entitas anak usahanya, yakni PT Persada Sokka Tama (PST) dan PT Ultra Mandiri Telekomunikasi (UMT).

Aksi korporasi ini dirancang sebagai upaya perseroan dalam menyederhanakan struktur organisasi grup sekaligus memperkuat posisi perusahaan sebagai penyedia infrastruktur digital nasional.

Dalam skema penggabungan tersebut, MTEL akan bertindak sebagai perusahaan penerima penggabungan atau surviving entity.

Seluruh aset, kewajiban, hak, serta kegiatan operasional yang sebelumnya dikelola oleh PST dan UMT akan beralih sepenuhnya ke dalam entitas MTEL setelah proses merger dinyatakan efektif secara hukum.

Rencana penggabungan ini dijadwalkan untuk mendapatkan persetujuan resmi melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) masing-masing perusahaan yang akan dilaksanakan pada 30 Juni 2026 mendatang.

Manajemen Mitratel menegaskan bahwa karena PST dan UMT merupakan anak usaha yang seluruh sahamnya dimiliki langsung oleh perseroan, maka aksi ini tidak akan menyebabkan perubahan pengendalian maupun efek dilusi bagi para pemegang saham MTEL.

Pihak manajemen melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia menyatakan bahwa penggabungan usaha ini bertujuan memperluas portofolio menara telekomunikasi serta infrastruktur pendukung milik MTEL secara substansial.

Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan skala dan kualitas aset perusahaan, sehingga posisi tawar Mitratel sebagai penyedia infrastruktur telekomunikasi di mata operator seluler semakin kuat.

Selain aspek skala bisnis, merger tersebut juga ditujukan untuk mencapai efisiensi operasional yang lebih optimal.

Integrasi PST dan UMT memberikan peluang bagi perseroan untuk melakukan efisiensi pada pos biaya pemeliharaan, penggunaan energi, pengelolaan sumber daya manusia, serta biaya umum dan administrasi secara terpusat.

Lebih lanjut, MTEL berencana memperluas ruang lingkup kegiatan usahanya dengan menambahkan sejumlah klasifikasi baku lapangan usaha (KBLI).

Penyesuaian ini mencakup layanan akses internet, aktivitas konsultasi dan perancangan internet of things (IoT), layanan telekomunikasi, hingga penyediaan tenaga kerja teknis.

Perusahaan menegaskan bahwa penambahan sektor usaha ini bukan merupakan ekspansi ke bisnis yang sepenuhnya baru, melainkan sekadar penyesuaian administratif.

Kegiatan tersebut sebelumnya telah dijalankan oleh PST dan UMT, sehingga langkah ini memastikan seluruh operasional hasil integrasi memiliki landasan hukum yang selaras di bawah payung MTEL.

Transformasi ini diarahkan untuk mengubah posisi Mitratel dari sekadar perusahaan menara telekomunikasi konvensional menjadi penyedia infrastruktur digital yang lebih terintegrasi.

Portofolio masa depan yang dikembangkan perseroan meliputi menara telekomunikasi, jaringan fiber optik, akses internet, layanan terkelola (managed services), hingga berbagai solusi berbasis IoT.

Studi kelayakan perusahaan menunjukkan bahwa langkah strategis ini didukung oleh tren pertumbuhan kebutuhan infrastruktur digital di Indonesia.

Faktor pendorong utama meliputi peningkatan trafik data, percepatan ekspansi jaringan 4G dan 5G, kebutuhan fiberisasi, serta tingginya permintaan konektivitas dari sektor korporasi.

Dari sisi keuangan, aksi korporasi ini diperkirakan tidak memberikan dampak material yang signifikan terhadap kondisi keuangan konsolidasian MTEL.

Hal ini dikarenakan aktivitas usaha dari kedua anak perusahaan tersebut sebelumnya sudah tercermin dalam laporan keuangan konsolidasi Mitratel.

Meskipun demikian, perusahaan tetap memitigasi sejumlah risiko yang mungkin muncul, terutama terkait proses integrasi operasional dan pembaruan izin aset.

Mitratel optimistis bahwa melalui penggabungan ini, perusahaan akan mampu mempercepat transformasi menjadi platform infrastruktur digital Next-Gen TowerCo yang lebih kompetitif dalam menangkap peluang ekonomi digital nasional.