Ecozone

MSCI Pertahankan Status Indonesia, Investor Global Tetap Waspada

12
×

MSCI Pertahankan Status Indonesia, Investor Global Tetap Waspada

Sebarkan artikel ini

Keputusan ini memperpanjang masa peninjauan selama lima bulan dan untuk sementara waktu tetap mempertahankan posisi Indonesia dalam kelompok pasar berkembang atau emerging market.

ff1001ca7b07a98613f1d2844d4a8b94.jpg
ff1001ca7b07a98613f1d2844d4a8b94.jpg

Jakarta – Pasar modal Indonesia mendapatkan napas tambahan setelah penyedia indeks global MSCI memutuskan untuk menunda evaluasi status pasar saham Indonesia hingga November 2026.

Keputusan ini memperpanjang masa peninjauan selama lima bulan dan untuk sementara waktu tetap mempertahankan posisi Indonesia dalam kelompok pasar berkembang atau emerging market.

Meski demikian, langkah tersebut belum mampu meredam kekhawatiran investor yang telah menarik diri dari pasar domestik sepanjang tahun ini.

Keputusan MSCI ini justru disambut dingin oleh pelaku pasar, yang tercermin dari pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,6 persen tak lama setelah pengumuman tersebut dirilis.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ancaman penurunan status menjadi pasar frontier masih membayangi jika reformasi yang dijalankan regulator dianggap belum menunjukkan hasil yang memadai hingga batas waktu yang ditentukan.

Sejak Januari lalu, MSCI telah membekukan saham-saham Indonesia dalam indeksnya, yang kemudian memicu serangkaian upaya perbaikan dari regulator, termasuk peningkatan porsi saham beredar bebas atau free float untuk memperbaiki likuiditas pasar.

Kendati berbagai kebijakan telah ditempuh, pasar saham Indonesia masih berada dalam tekanan berat.

Sepanjang tahun berjalan, IHSG tercatat merosot sekitar 30 persen, menjadikannya salah satu pasar saham dengan kinerja terburuk di dunia. Pada periode yang sama, investor asing telah melakukan penjualan bersih saham senilai kurang lebih US$ 3,9 miliar.

Manajer Investasi Pictet Asset Management, Tan Altundag, menilai langkah MSCI mempertahankan Indonesia dalam kelompok pasar yang masih dapat diinvestasikan oleh dana global memang penting.

Namun, ia menekankan bahwa keputusan tersebut tidak secara otomatis mengembalikan kepercayaan investor maupun membalikkan arus keluar modal asing secara instan.

Menurut Tan Altundag, investor global saat ini masih menunggu bukti nyata bahwa reformasi pasar berjalan efektif sebelum mereka bersedia meningkatkan eksposur kembali ke Indonesia.

Di sisi lain, MSCI mengakui bahwa langkah-langkah reformasi yang dilakukan otoritas Indonesia merupakan langkah ke arah yang benar.

Namun, lembaga tersebut menegaskan bahwa opsi konsultasi untuk menurunkan status pasar tetap terbuka jika perkembangan signifikan tidak terlihat hingga November mendatang.

Senada dengan hal tersebut, Portfolio Manager Allspring Global Investments, Gary Tan, menyatakan bahwa hasil evaluasi MSCI ini sejalan dengan ekspektasi pasar.

Namun, ia menyoroti bahwa fokus kini telah bergeser dari sekadar pengumuman kebijakan menuju implementasi dan hasil yang terukur.

Gary Tan menyebut perpanjangan masa evaluasi hingga November pada dasarnya menjaga tekanan terhadap regulator dan menunda keputusan akhir.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa keputusan MSCI ini akan menjadi momentum untuk memperkuat dan mempercepat agenda reformasi pasar modal yang telah dijalankan sejak awal tahun.

Meski begitu, dampak langsung terhadap dana pasif dan exchange traded fund berbasis pasar berkembang diperkirakan terbatas.

Hal ini disebabkan oleh bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets yang telah turun drastis sepanjang tahun ini hingga menjadi kurang dari 0,5 persen.

Selain isu MSCI, sentimen investor juga dibayangi oleh kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia.

Program belanja besar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, termasuk program makan gratis, dinilai meningkatkan tekanan terhadap anggaran negara.

Kekhawatiran tersebut turut berkontribusi pada pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh rekor terendah tahun ini.

Tekanan terhadap persepsi risiko Indonesia juga datang dari lembaga pemeringkat global. Awal tahun ini, Moody’s dan Fitch Ratings menurunkan outlook peringkat utang Indonesia menjadi negatif dengan alasan menurunnya kredibilitas kebijakan.

Analis Goldman Sachs memperkirakan, apabila status pasar benar-benar diturunkan oleh MSCI, hal tersebut dapat memicu arus keluar dana hingga US$ 13 miliar dari pasar saham Indonesia.

Estimasi ini muncul di tengah kondisi kapitalisasi pasar saham domestik yang telah menyusut sekitar US$ 370 miliar sejak Januari.

Manajer dana SGMC Capital, Mohit Mirpuri, berpendapat bahwa keputusan MSCI kali ini lebih baik dibandingkan skenario terburuk yang sebelumnya dikhawatirkan pasar.

Namun, ia menegaskan bahwa beberapa bulan ke depan akan menjadi ujian utama bagi regulator Indonesia.

Menurutnya, fokus investor saat ini bukan lagi pada pengumuman kebijakan baru, melainkan pada eksekusi, kredibilitas, dan bukti nyata hasil reformasi.

Penundaan keputusan dari MSCI ini memberikan kesempatan terakhir bagi Indonesia untuk membuktikan efektivitas reformasi pasar modal di tengah waktu yang kian sempit serta tekanan ekonomi yang belum mereda.

03f093ba337f0281668c8257eb65de27.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut positif keputusan MSCI yang mempertahankan status Indonesia dalam kategori Emerging Market pada Market Classification Review 2026 yang diumumkan Rabu (24/6). Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan keputusan tersebut mencerminkan kepercayaan investor global terhadap ketahanan ekonomi nasional dan stabilitas sektor jasa keuangan. “Keputusan ini mencerminkan…

0c01e8520981e2e162a3ba12ae5f3040.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah spot terus melemah pada perdagangan Rabu (24/6/2026) siang. Mengutip Bloomberg, pukul 12.12 WIB, rupiah spot ada di level Rp 17.955 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 0,53% dari sehari sebelumnya yang ada di Rp 17.859 per dolar AS. Di Asia, mayoritas mata uang melemah terhadap dolar AS siang ini. Rupiah mencatat pelemahan terdalam yakni 0,53%, disusul won Korea yang melemah 0,50%, baht Thailand melemah 0,44%,…