Ekonomi

Miliarder Jeremy Grantham Prediksi Bitcoin Akan Lenyap Perlahan

53
×

Miliarder Jeremy Grantham Prediksi Bitcoin Akan Lenyap Perlahan

Sebarkan artikel ini
8ed0808258c89b944445e22aa7a3b5b1.jpg
8ed0808258c89b944445e22aa7a3b5b1.jpg

New York – Investor kawakan sekaligus salah satu pendiri perusahaan investasi GMO, Jeremy Grantham, memberikan peringatan keras terkait masa depan Bitcoin.

Grantham memprediksi bahwa aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia tersebut akan kehilangan relevansinya secara bertahap dalam beberapa dekade mendatang.

Pernyataan tersebut disampaikan Grantham dalam wawancara di program Squawk Box CNBC pada Jumat, 26 Juni 2024.

Ia menegaskan pandangannya bahwa Bitcoin merupakan aset yang tidak memiliki nilai intrinsik dan sangat bersifat spekulatif.

Selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun ke depan, Grantham menduga Bitcoin akan memudar secara perlahan namun pasti.

Ia menilai bahwa Bitcoin sama sekali tidak dapat diandalkan sebagai instrumen penyimpan nilai yang stabil bagi para investor.

Volatilitas harga yang ekstrem menjadi alasan utama Grantham meragukan kredibilitas aset digital tersebut.

Nilai Bitcoin dapat anjlok hingga separuhnya tanpa adanya pemicu fundamental yang jelas, bahkan saat kondisi ekonomi sedang dalam fase kuat.

Grantham kemudian membandingkan performa Bitcoin dengan komoditas emas yang dinilainya jauh lebih solid.

Emas disebutnya tetap mampu mempertahankan nilai jangka panjang meskipun sempat mengalami koreksi dari rekor tertingginya.

Selain masalah fundamental, Grantham juga mempertanyakan utilitas praktis dari Bitcoin dalam aktivitas ekonomi masyarakat sehari-hari.

Menurutnya, Bitcoin hingga saat ini belum terbukti memberikan manfaat nyata yang bisa dirasakan oleh publik secara luas.

Orang-orang tidak menggunakan aset tersebut untuk transaksi esensial seperti membeli kebutuhan pokok atau makan malam.

Grantham bahkan melontarkan kritik pedas dengan menyebut bahwa penggunaan utama Bitcoin cenderung memfasilitasi tindakan kriminal.

Ia berpendapat bahwa aset tersebut lebih sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memindahkan uang secara ilegal.

Secara historis, harga Bitcoin memang kerap mengalami tekanan hebat dengan penurunan mencapai sedikitnya 70 persen dari titik puncaknya pada setiap siklus pasar.

Pada saat wawancara berlangsung, harga Bitcoin tercatat berada di posisi 52 persen di bawah level tertinggi yang sempat dicapai pada Oktober 2025.

Nilai perdagangannya saat itu berada di bawah angka 60.000 dolar AS per koin.

Sejumlah analis pasar memperkirakan tren pelemahan harga kripto ini masih memiliki potensi untuk berlanjut dalam beberapa bulan ke depan.

Namun, di balik kritik tajam tersebut, Bitcoin terus menunjukkan tren adopsi yang signifikan di kalangan institusi keuangan global.

Langkah besar terjadi ketika U.S. Securities and Exchange Commission memberikan persetujuan terhadap ETF Bitcoin spot pada Januari 2024.

Kebijakan tersebut membuka akses bagi raksasa investasi seperti BlackRock melalui produk iShares Bitcoin Trust.

Fidelity Investments juga turut meramaikan pasar dengan meluncurkan Wise Origin Bitcoin Fund bagi para nasabahnya.

Inisiatif dari lembaga-lembaga keuangan besar ini menjadi tonggak penting dalam integrasi Bitcoin ke dalam portofolio investor institusi.

Meskipun Grantham tetap skeptis, dukungan dari institusi keuangan besar menunjukkan adanya polarisasi pandangan yang tajam mengenai masa depan aset digital ini.