Berita

Massa Nepal Bakar Rumah PM, Rusak Kediaman Presiden Akibat Demo

100
×

Massa Nepal Bakar Rumah PM, Rusak Kediaman Presiden Akibat Demo

Sebarkan artikel ini
d514f1205588132f02e75224d85709f9.jpg
d514f1205588132f02e75224d85709f9.jpg

Balkot – Massa demonstran di Nepal pada Selasa (9/9/2025) menyerbu dan membakar rumah pribadi Perdana Menteri KP Sharma Oli, serta merusak kediaman Presiden Ram Chandra Poudel. Aksi ini merupakan puncak kemarahan atas pemblokiran 26 platform media sosial dan dugaan korupsi para pejabat.

Demonstrasi telah berkecamuk sejak Jumat (5/9/2025), dipicu oleh kebijakan pemerintah yang memblokir sejumlah media sosial. Kemarahan publik semakin memuncak akibat maraknya korupsi di kalangan pejabat tinggi.

Para pedemo di Kota Balkot membakar rumah pribadi Oli, yang baru saja mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Nepal. Oli sendiri diketahui sedang berada di rumah dinasnya saat insiden pembakaran terjadi.

Demonstran menuntut pertanggungjawaban Oli atas 22 korban jiwa yang jatuh dalam serangkaian demo Nepal hingga berita ini diunggah.

Sementara itu, media setempat melaporkan bahwa massa juga merusak kediaman Presiden Poudel, yang juga baru saja mengundurkan diri, di Bohoratpur. Para pengunjuk rasa bahkan melemparkan potret dirinya ke tangga.

Kantor pusat Kongres Nepal di wilayah Sanepa tidak luput dari amuk massa, dengan gedung tersebut dilaporkan dibakar.

Bangunan pemerintah lainnya yang dilalap api adalah rumah mantan Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak di Naikap, Ibu Kota Kathmandu.

Selain itu, para pengunjuk rasa yang mayoritas adalah anak muda melempari rumah Menteri Komunikasi Prithvi Subba Gurung di Sunakothi, Distrik Lalitpur, dengan batu.

Gurung adalah menteri yang memerintahkan pemblokiran media sosial karena platform-platform tersebut belum mendaftar ke Kementerian Informasi dan Teknologi.

Menurut Pemerintah Nepal, pendaftaran media sosial wajib untuk mencegah munculnya identitas palsu, ujaran kebencian, dan kejahatan siber lainnya.

Namun, kalangan muda Nepal menganggap pemblokiran tersebut tidak hanya merenggut hiburan digital, tetapi juga menghapus identitas mereka.

Sejumlah media sosial populer yang diblokir antara lain platform-platform seperti Facebook, Instagram, WhatsApp, YouTube, Snapchat, Pinterest, X, dan aplikasi-aplikasi buatan Tencent, raksasa teknologi asal China.

Amarah massa juga turut dipicu oleh gaya hidup mewah para pejabat, terutama anak-anak mereka (disebut Nepo Kids) yang gemar pamer kemewahan, di tengah kondisi serba sulit yang dialami rakyat.

Kerusuhan Nepal kini telah menjalar ke berbagai kota, tidak hanya di Kathmandu. Selain rumah pejabat dan gedung pemerintah yang menjadi sasaran pedemo, Menteri Keuangan Bishnu Paudel juga diduga dikeroyok massa.

Bentrokan antara polisi dan demonstran semakin memperparah situasi di lapangan.

Pada Selasa malam, Oli meminta semua partai untuk bertemu pada pukul 18.00 waktu setempat guna menyuarakan ketenangan kepada masyarakat.

“Saya sedang berdiskusi dengan partai-partai terkait untuk menilai situasi dan mengambil kesimpulan. Untuk itu, saya mengadakan pertemuan partai pada pukul 18.00 hari ini. Saya sangat memohon saudara-saudara sekalian tetap tenang di situasi sulit ini,” ucapnya.