Fenesia – Maria Corina Machado, tokoh oposisi Venezuela yang dijuluki “Iron Lady,” resmi menerima Nobel Perdamaian 2025. Penghargaan ini diterima Machado dari tempat persembunyiannya di Venezuela, sebagai bentuk pengakuan atas perjuangan gigihnya melawan otoritarianisme Nicolas Maduro dan dedikasinya dalam menjaga demokrasi di tengah represi.
Komite Nobel menyatakan penghargaan ini diberikan “kepada perempuan yang menjaga api demokrasi di tengah kegelapan yang kian pekat.” Pengakuan global ini menandai babak baru bagi Machado, yang selama bertahun-tahun telah menjadi simbol perlawanan sipil di Venezuela.
Machado bukanlah figur politik yang muncul secara tiba-tiba. Lahir di Caracas pada tahun 1967, ia mulai dikenal publik pada awal 2000-an sebagai salah satu pendiri organisasi sipil Sumate. Organisasi ini didedikasikan untuk mendorong transparansi pemilu di Venezuela dan pada tahun 2002 memimpin referendum guna mencabut mandat Presiden Hugo Chavez.
Langkah berani tersebut mengakibatkan Machado dituduh melakukan pengkhianatan, mengubah total kehidupannya. Ia mulai menerima ancaman pembunuhan, memaksa anak-anaknya dikirim ke luar negeri demi keselamatan.
Namun, ancaman itu tidak menyurutkan semangatnya. Machado terus menyuarakan pentingnya demokrasi, transparansi, dan hak asasi manusia, hingga akhirnya mendirikan partai Vente Venezuela. Partai ini menjadi salah satu kekuatan oposisi paling vokal terhadap rezim Chavez dan kemudian penerusnya, Nicolas Maduro.
Pada tahun 2023, Machado berhasil memenangkan pemilihan pendahuluan oposisi dengan suara telak. Kemenangan ini menumbuhkan harapan baru bagi rakyat Venezuela untuk menantang kekuasaan Maduro.
Namun, setahun kemudian, Mahkamah Agung yang dikuasai pemerintah mengukuhkan larangan baginya untuk mencalonkan diri. Machado dituduh mendukung sanksi Amerika Serikat, terlibat korupsi, dan merugikan aset negara di luar negeri, tuduhan yang semua ia bantah.
Meskipun kursinya digantikan oleh Edmundo Gonzalez, Machado tidak menyerah. Ia terus turun ke jalan, berpidato dari atas truk, dan memimpin kampanye dari kota ke kota. “Kami tak pernah sekuat hari ini,” ujarnya di Caracas sebelum sempat ditangkap sementara.
Sejak awal 2025, Maria Corina Machado harus menjalani hidup dalam ketidakpastian, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain di dalam negeri. Beberapa penasihatnya ditangkap, sementara yang lain terpaksa melarikan diri ke luar negeri.
Namun, keterbatasan tidak menghentikan perjuangannya. Ia tetap aktif di media sosial, mengirim pesan, dan mengobarkan semangat kepada para pendukungnya. “Ini adalah sesuatu yang pantas diterima rakyat Venezuela. Saya hanyalah bagian kecil dari gerakan besar,” ujarnya dalam sambungan telepon kepada Institut Nobel Norwegia. Machado menambahkan, “Saya percaya kita sangat dekat meraih kebebasan untuk negara kita dan perdamaian untuk kawasan.”
Keputusan Komite Nobel menganugerahkan penghargaan ini kepada Machado menggarisbawahi pesan krusial: demokrasi adalah prasyarat bagi perdamaian. “Ketika kekuasaan otoriter mencengkeram, sangat penting bagi dunia untuk mengenali pembela kebebasan yang berani bangkit dan melawan,” ujar Ketua Komite Nobel, Jorgen Watne Frydnes.
Machado kini tercatat sebagai perempuan ke-20 dalam sejarah yang meraih Nobel Perdamaian, menyusul jejak tokoh-tokoh inspiratif seperti Malala Yousafzai dan Shirin Ebadi.
Sebelum pengumuman resmi, sempat beredar spekulasi bahwa Donald Trump akan menjadi penerima Nobel Perdamaian 2025 atas rencana gencatan senjata di Gaza. Namun, Komite Nobel menegaskan bahwa keputusan mereka murni berdasarkan “karya dan kehendak Alfred Nobel,” bukan pertimbangan politik.
Maria Corina Machado, pemenang Nobel Perdamaian 2025, kini menjadi simbol baru perlawanan damai di tengah merosotnya jumlah negara demokratis di dunia. Penghargaan ini bukan hanya apresiasi untuk seorang individu, melainkan pengakuan terhadap perjuangan oposisi Venezuela di bawah tekanan pemerintahan Maduro.
Saat banyak tokoh memilih bungkam atau pergi, Machado tetap teguh, bahkan ketika nyawanya terancam. Dalam pidato singkatnya, ia mendedikasikan penghargaan ini untuk rakyat Venezuela dan para tahanan politik yang masih menanti keadilan.







