Jakarta – Polemik seputar aksi Sarwendah yang beberapa kali mengajak anak-anaknya tampil dalam siaran langsung penjualan di media sosial kembali menuai sorotan publik. Menanggapi kritik yang ramai di dunia maya, kuasa hukum Sarwendah akhirnya angkat bicara.
Belakangan ini, Sarwendah diketahui beberapa kali melakukan live streaming untuk mempromosikan produk bersama kekasihnya, Giorgio Antonio.
Dalam beberapa kesempatan, anak-anak Sarwendah juga terlihat ikut hadir dalam siaran langsung tersebut. Kehadiran mereka pun memunculkan beragam repons dari warganet.
Sebagian netizen mempertanyakan keputusan Sarwendah yang melibatkan anak-anaknya dalam aktivitas live commerce. Tidak sedikit pula yang menyoroti kedekatan Giorgio Antonio dengan buah hati Sarwendah, mengingat hubungan keduanya masih sebatas berpacaran.
Menanggapi kritik yang berkembang di media sosial, tim kuasa hukum Sarwendah, Chris Sam Siwu dan Abraham Simon S.H., menilai publik seharusnya tidak terburu-buru menarik kesimpulan hanya dari potongan video yang beredar.
Mereka menegaskan, bila memang ada dugaan pelanggaran terhadap hak anak, lembaga berwenang seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dapat menilai persoalan itu secara objektif.
“Posisi satu video yang melebihi batas langsung disimpulkan ya kan kita ada lembaga ya seperti KPAI misalnya ya kan kita duduk datang-datang ke sana yuk duduk permasalahannya seperti ini kita jelaskan jadi jangan lagi dibilang ini sudah kelewat batas lo,” jelas Chris Sam Siwu, dikutip Minggu 21 Juni 2026.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa pihak Sarwendah terbuka apabila memang diperlukan klarifikasi kepada lembaga yang berwenang.
Menurut mereka, penilaian terkait perlindungan anak tidak semestinya hanya didasarkan pada asumsi publik di media sosial.
Kuasa hukum juga membela sikap Giorgio Antonio yang dinilai sebagian netizen terlalu akrab dengan anak-anak Sarwendah. Mereka menilai, tindakan yang terlihat dalam video masih merupakan bentuk kasih sayang yang wajar dan belum dapat dikategorikan melampaui batas.
“Sekarang kelewat batas di mana ya kan orang disayangnya juga,” tuturnya.
Di sisi lain, pihak Sarwendah juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap maraknya penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Mereka menilai teknologi tersebut berpotensi dimanfaatkan untuk mengedit atau memanipulasi video, sehingga memunculkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat.







