Jakarta – Sentimen global, khususnya memanasnya hubungan AS dan Venezuela, diperkirakan akan menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar keuangan di awal tahun 2026.
Hal ini diungkapkan oleh analis pasar modal, Hendra Wardana.
Menurutnya, penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh AS meningkatkan ketegangan geopolitik.
“Isu penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh otoritas AS meningkatkan ketegangan geopolitik dan langsung berdampak pada persepsi risiko global,” ujar Hendra, Minggu (4/1/2026).
Hendra menjelaskan, memanasnya hubungan AS dan Venezuela berpotensi meningkatkan keengganan investor global terhadap risiko dalam jangka pendek.
Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.
Eskalasi konflik berisiko mengganggu stabilitas pasokan energi global.
“Kondisi ini mendorong harga minyak bergerak volatil dan cenderung menguat dalam jangka pendek,” katanya.
Terkait IHSG, Hendra memproyeksikan indeks akan melemah terbatas untuk menguji area support di kisaran 8.642 hingga 8.672 pada perdagangan Senin (5/1/2026).
“Area tersebut menjadi level krusial untuk mengukur kekuatan pasar, sementara resistance terdekat tetap berada di level puncak historis 8.777,” jelasnya.
Situasi geopolitik ini berpotensi memberikan sentimen positif bagi saham sektor energi dan komoditas.
Namun, kondisi tersebut juga meningkatkan kekhawatiran investor terhadap inflasi dan ketidakpastian global.
Hal ini mendorong sikap wait and see, khususnya dari investor asing.
Selain faktor AS dan Venezuela, pergerakan IHSG juga akan dipengaruhi ekspektasi arah kebijakan suku bunga global.
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta dinamika arus dana asing di pasar emerging markets juga jadi faktor penentu.
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati kesinambungan kebijakan ekonomi pemerintah yang pro-pasar.
Stabilitas makroekonomi, serta realisasi kinerja awal tahun emiten berkapitalisasi besar juga diperhatikan.
“Kombinasi sentimen global dan domestik ini membuat pergerakan IHSG cenderung fluktuatif, namun masih berada dalam fase konsolidasi yang sehat selama support utama mampu dipertahankan,” ujar Hendra.
Dalam jangka menengah hingga panjang, proyeksi IHSG menembus level 10.000 pada akhir 2026 dinilai ambisius.
Namun, hal ini masih realistis jika ditopang fondasi pasar modal Indonesia yang kuat.
“Awal 2026 dibuka dengan sentimen positif, tercermin dari penguatan IHSG lebih dari 1 persen pada hari perdagangan pertama dengan nilai transaksi yang besar. Ini menandakan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional masih cukup solid,” ujarnya.
Untuk mencapai level psikologis 10.000, penguatan IHSG tetap membutuhkan dukungan fundamental yang berkelanjutan.
Pertumbuhan laba emiten, khususnya saham berkapitalisasi besar, dinilai menjadi motor utama penguatan indeks.
Peluang kembalinya arus dana asing seiring meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga global juga jadi faktor pendukung.
Stabilitas inflasi, nilai tukar rupiah yang terkendali, serta keberlanjutan IPO berkualitas akan memperkuat struktur pasar modal dalam jangka panjang.
“Di tengah volatilitas jangka pendek akibat sentimen geopolitik, strategi yang lebih relevan adalah selektif dan memanfaatkan koreksi sebagai peluang trading maupun akumulasi terbatas,” ujar Hendra.
Secara keseluruhan, ketegangan global akibat konflik AS dan Venezuela berpotensi menekan IHSG dalam jangka pendek.
Namun, struktur pasar domestik yang semakin matang serta prospek pertumbuhan laba emiten membuat prospek IHSG tetap konstruktif.
“Selama area support 8.642–8.672 mampu bertahan, peluang IHSG untuk kembali menguji level tertinggi sepanjang masa di 8.777 tetap terbuka,” katanya.
Data penutupan perdagangan BEI pada Jumat (2/1/2026) menunjukkan IHSG ditutup menguat 101,19 poin atau 1,17 persen ke posisi 8.748,13.







