Ecozone

Kimia Farma Jual 38 Aset Rp 2,1 Triliun, Ini Alasannya

181
×

Kimia Farma Jual 38 Aset Rp 2,1 Triliun, Ini Alasannya

Sebarkan artikel ini
a8dd09e92d12ac151b161f3591726d55.jpg
a8dd09e92d12ac151b161f3591726d55.jpg

Jakarta – PT Kimia Farma Tbk (KAEF) berencana menjual 38 aset berupa bangunan dan tanah senilai Rp 2,1 triliun. Aksi korporasi ini merupakan bagian dari rencana restrukturisasi perusahaan.

Keputusan penjualan aset ini akan diajukan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan pada 3 November 2025.

“Dengan rencana ini, diharapkan perseroan akan memperoleh dana kas untuk dapat mendukung kegiatan operasional dan pengembangan usaha perseroan,” ujar Corporate Secretary Kimia Farma, Ganti Winarno Putro, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Minggu (28/9/2025).

Nilai aset yang akan dialihkan mencapai 65,35 persen dari total kekayaan perseroan per 30 Juni 2025 yang sebesar Rp 3,2 triliun. Kimia Farma tengah menghadapi tantangan pengelolaan modal kerja untuk menjaga keseimbangan antara likuiditas dan profitabilitas.

Kenaikan suku bunga pinjaman menjadi salah satu tantangan utama dalam menjaga keseimbangan tersebut.

Untuk mengatasi tantangan ini, Kimia Farma melakukan Rencana Restrukturisasi Perusahaan (RRP) untuk menstabilkan keuangan dan mendukung pertumbuhan bisnis. Penjualan aset berupa tanah dan bangunan menjadi salah satu strategi dalam RRP ini.

Ganti menjelaskan, Kimia Farma akan mengalihkan aset melalui tiga cara: penawaran umum atau lelang, penawaran terbatas, atau penunjukan langsung.

“Dalam hal penawaran umum atau lelang, pelaksanaan penawaran umum atau lelang tersebut dapat dilakukan secara mandiri oleh Perseroan yang dilaksanakan oleh Panitia Penjualan, atau dilakukan oleh pejabat lelang yang bertugas di Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang,” jelas Ganti.

Pada semester I 2025, Kimia Farma mencatatkan rugi sebesar Rp 135 miliar, menurun dibandingkan kerugian Rp 312 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan laporan keuangan perseroan, Kimia Farma mencatatkan penjualan bersih Rp 4,3 triliun pada semester I 2025. Penjualan ini terdiri dari Rp 3,8 triliun dari pihak ketiga dan Rp 452 miliar dari pihak berelasi.

Penjualan luar negeri dari produk garam kina dan essential oil tercatat sebesar Rp 63 miliar, sedangkan obat dan alat kesehatan Rp 316 juta. Beban pokok penjualan Kimia Farma turun dari Rp 3,6 triliun menjadi Rp 2,8 triliun sepanjang Januari-Juni 2025. Beban usaha tercatat sebesar Rp 1,4 triliun, turun dari Rp 1,7 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Jumlah liabilitas Kimia Farma saat ini sebesar Rp 11,6 triliun dengan ekuitas Rp 14,9 triliun. Aset Kimia Farma hingga 30 Juni 2025 tercatat sebesar Rp 14,9 triliun.

Sepanjang 2024, Kimia Farma mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 1,1 triliun, menurun dari rugi Rp 2,2 triliun pada tahun sebelumnya. Pada periode tersebut, Kimia Farma membukukan pendapatan sebesar Rp 9,9 triliun, didorong oleh penjualan pihak ketiga lokal sebesar Rp 8,8 triliun, pihak berelasi Rp 990 miliar, garam kina dan essential oil ke luar negeri Rp 117 miliar, yodium dan derivat Rp 2,1 miliar, serta obat dan alat kesehatan Rp 17 miliar.