Jakarta – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menerapkan proses penilaian dan sinkronisasi yang ketat terhadap cabang olahraga (cabor) yang akan diberangkatkan ke SEA Games 2025 Thailand. Ketatnya seleksi ini dipicu oleh target medali yang dinilai terlalu tinggi oleh sejumlah pengurus besar (PB) cabor, sehingga keputusan akhir akan sangat bergantung pada data akurat dan realistis.
Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kemenpora, Surono, menegaskan pentingnya pendekatan berbasis data. “Kadang-kadang PB terlalu mematok target tinggi, tetapi kami harus memastikan setiap target itu didasarkan pada data,” ujar Surono di Kantor Kemenpora, Kamis, 6 November 2025.
Ia menjelaskan, tim penilaian terdiri dari praktisi olahraga, akademisi, serta perwakilan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI). Proses diskusi antara tim penilai dan pengurus cabor disebut berjalan alot, terutama saat membahas persentase perolehan medali yang realistis di ajang SEA Games mendatang.
Menurut Surono, pendekatan berbasis data menjadi kunci untuk mengukur kemampuan atlet, sekaligus menganalisis kekuatan dan kelemahan lawan di tingkat Asia Tenggara. “Kami harus bisa mengomparasi data yang ada, calon lawannya siapa, posisinya seperti apa, dan bagaimana kekuatan serta kelemahan atlet kita,” tuturnya.
Target tanpa data pendukung dinilai tidak mungkin tercapai. “Kalau terukur, semua jadi lebih mudah. Tidak mungkin, misalnya, pelari 100 meter dengan catatan waktu 10,4 detik tiba-tiba ditargetkan menyalip yang 10,2 detik tanpa data pendukung,” ucap Surono.
Kemenpora juga terus memantau perkembangan atlet individu potensial, seperti pelari nasional Lalu Muhammad Zohri. “Sekarang Zohri sedang berlatih di Tokyo, Jepang. Rekornya 10,3 detik. Kalau cederanya pulih, dia bisa bersaing. Kami terus memantau perkembangannya,” kata Surono.
Selain nomor individu, beberapa cabor beregu juga tengah dipantau melalui hasil try out dan simulasi pertandingan. Surono menegaskan, Kemenpora menunggu laporan data akurat dari federasi sebelum memutuskan jumlah atlet dan nomor pertandingan yang akan diikuti. “Kami selalu minta data. Kadang mereka bilang ‘ini pasti medali’, tapi harus dibuktikan dengan data,” ujarnya.
Tim penilaian juga mengevaluasi kondisi fisik atlet. Jika ada yang cedera, kemungkinan atlet tersebut akan diganti. Selain itu, profil calon lawan dan peluang tambahan nomor pertandingan yang berpotensi meraih medali turut menjadi bahan pertimbangan utama.
“Data akan memudahkan kami memverifikasi atlet yang diusulkan dan target medali yang realistis. Kalau peluangnya besar, kami rekomendasikan. Kalau tidak, ya sesuai pelatnas yang ada sekarang,” tegas Surono.
Proses sinkronisasi itu, menurut dia, berjalan intensif dan memakan waktu panjang. “Perdebatan teknis bisa sampai 24 jam. Setiap pengurus cabor kami panggil bergiliran untuk memaparkan jumlah atlet dan target medali di hadapan tim penilaian,” pungkas Surono.







