Berita

Kemenag: Sejumlah Pesantren Didirikan Tanpa Ikuti Prosedur Formal yang Berlaku

96
×

Kemenag: Sejumlah Pesantren Didirikan Tanpa Ikuti Prosedur Formal yang Berlaku

Sebarkan artikel ini
fdcbf41c041f1a8aa096fc7dab490403.jpg
fdcbf41c041f1a8aa096fc7dab490403.jpg

Sidoarjo – Kementerian Agama (Kemenag) mengakui banyak pondok pesantren (ponpes) tradisional di Indonesia berdiri tanpa menempuh prosedur formal, mayoritas dibangun secara swadaya masyarakat dan wali santri. Pengakuan ini muncul setelah insiden ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, yang menewaskan 14 santri dan melukai puluhan lainnya pada Senin, 29 September 2025. Kemenag kini berkomitmen mendorong mitigasi melalui identifikasi dan asesmen bangunan pesantren yang berpotensi bermasalah.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, menyatakan pihaknya akan fokus pada identifikasi dan asesmen bangunan pesantren yang berpotensi bermasalah. “Karena itu, Kemenag berkomitmen mendorong mitigasi dengan melakukan identifikasi dan asesmen bangunan pesantren yang berpotensi bermasalah,” ujar Thobib dalam keterangan resmi pada Jumat, 3 Oktober 2025.

Thobib mengakui peristiwa tragis ambruknya Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo menjadi momen penting bagi Kemenag. Insiden yang terjadi pada Senin, 29 September 2025, menimpa ratusan santri yang tengah salat asar di bangunan tersebut. Menurutnya, tragedi ini terjadi karena adanya kelemahan dari sisi bangunan.

Oleh karena itu, Kemenag menekankan seluruh pengelola pondok pesantren agar patuh terhadap prosedur pembangunan yang berlaku, terutama mengenai kepemilikan izin mendirikan bangunan (IMB). “Semua bangunan pada prinsipnya harus berizin, bukan hanya pesantren. Regulasi sudah ada, tinggal patuhi agar tidak menimbulkan risiko,” tegas Thobib.

Thobib juga berjanji Kemenag akan lebih ketat mengawasi proses pembangunan di pondok pesantren ke depan. Meskipun Kemenag tidak memiliki kewenangan teknis dalam menilai kelayakan bangunan, pihaknya akan berkoordinasi dengan kementerian lain, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), untuk membantu mengawasi keamanan sarana yang dibangun.

Kemenag turut menyampaikan duka cita atas jatuhnya puluhan korban dalam peristiwa yang menimpa Ponpes Al Khoziny ini. Menteri Agama, Nasaruddin Umar, bahkan sudah mengunjungi langsung lokasi kejadian. Menurut Thobib, Menteri Agama tidak hanya berempati, tetapi juga memahami betul penyebab musibah. “Pak Menteri melihat ada banyak hal ke depan yang harus diperbaiki. Ini menjadi pelajaran agar seluruh pondok pesantren benar-benar memperhatikan pembangunan dengan kenyamanan dan keamanan santri,” tuturnya.

Asrama santri putra Ponpes Al Khoziny ambruk saat para santri melaksanakan salat asar berjamaah di lantai dua yang difungsikan sebagai musala. Pengasuh pesantren, Abdul Salam Mujib, menjelaskan bahwa bangunan yang ambruk memang masih dalam tahap renovasi. “Setahu saya, pengecoran terakhir dilakukan tadi pagi sampai siang hari,” kata Mujib di Sidoarjo pada Senin, 29 September 2025.

Sekitar pukul 15.00 pada hari kejadian, atap yang baru dicor tersebut tiba-tiba ambruk dan menimpa ratusan santri di lantai dua. Peristiwa ini diduga terjadi karena pondasi bangunan tidak kokoh. Hingga Jumat, 3 Oktober 2025, total korban tercatat 167 orang.

Dari jumlah tersebut, 118 orang telah ditemukan, dengan rincian 103 orang selamat, 14 orang meninggal dunia, dan satu orang pulang tanpa membutuhkan perawatan medis. Sebanyak 14 korban selamat masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, 89 orang sudah diperbolehkan pulang, dan satu orang dirujuk ke rumah sakit di Mojokerto. Sementara itu, 49 orang lainnya berdasarkan daftar absensi pondok pesantren masih dalam pencarian tim SAR gabungan.