Sidoarjo – Kementerian Agama (Kemenag) meminta masyarakat tetap menaruh kepercayaan pada pondok pesantren, meskipun terjadi insiden ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur. Musibah yang menewaskan 14 santri dan menyebabkan puluhan lainnya luka-luka ini, menurut Kemenag, seharusnya menjadi pelajaran tanpa mengurangi keyakinan terhadap lembaga pendidikan Islam tersebut. Hingga Jumat, 3 Oktober 2025, sebanyak 49 santri masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Publik Kemenag, Thobib Al Asyhar, menyatakan pemerintah ingin pesantren tetap dipercaya sebagai pusat pengembangan ilmu, budaya, dan pembentukan karakter. “Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan Islam dan sudah lama menjadi bagian dari tradisi Indonesia,” ujarnya melalui keterangan tertulis pada Jumat, 3 Oktober 2025.
Menurut Thobib, peristiwa duka di Ponpes Al Khoziny harus menjadi pelajaran bersama. Namun, ia menekankan bahwa hal tersebut tidak lantas menjadi alasan untuk mengurangi kepercayaan masyarakat pada pesantren. Ia mencontohkan, Ponpes Al Khoziny sendiri memiliki sejarah panjang lebih dari satu abad dan telah melahirkan banyak ulama besar di Indonesia, termasuk KH Hasyim Asy’ari yang pernah menimba ilmu di sana.
Kemenag memastikan akan melakukan evaluasi dan perbaikan dalam sistem pembangunan infrastruktur di pondok pesantren. Mereka juga akan menggandeng kementerian lain, termasuk Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), untuk membantu mengawasi keamanan sarana yang dibangun di pesantren. Thobib menegaskan masyarakat dan para orang tua tidak perlu khawatir menitipkan anaknya untuk menimba ilmu di pesantren, karena Kemenag akan terus mengawal agar masalah ini tidak terulang lagi.
Asrama santri putra Ponpes Al Khoziny ambruk pada Senin, 29 September 2025, ketika ratusan santri sedang melaksanakan salat Asar berjamaah di lantai dua yang difungsikan sebagai musala. Pengasuh pesantren, Abdul Salam Mujib, menjelaskan bahwa bangunan yang ambruk memang masih dalam tahap renovasi.
Sejak pagi hingga pukul 12.00 di hari kejadian, atap lantai tiga yang ambruk baru saja dicor. “Setahu saya, pengecoran terakhir dilakukan tadi pagi sampai siang hari,” kata Mujib kepada awak media di Sidoarjo pada Senin, 29 September 2025. Sekitar pukul 15.00, atap yang baru dicor tersebut tiba-tiba ambruk, menjebak ratusan santri di balik reruntuhan.
Peristiwa tragis ini diduga kuat terjadi karena pondasi bangunan yang tidak kokoh. Hingga Jumat, 3 Oktober 2025, total korban tercatat 167 orang. Dari jumlah tersebut, 118 orang sudah ditemukan, dengan rincian 103 orang selamat, 14 orang meninggal dunia, dan satu orang pulang tanpa membutuhkan perawatan medis. Sebanyak 14 korban selamat masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit, sementara 89 orang sudah diperbolehkan pulang, dan satu orang dirujuk ke rumah sakit di Mojokerto.







