Jakarta – Gejolak pasar saham yang tercermin dari anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 23,15% year to date ke level 6.723,32, serta pelemahan rupiah yang menyentuh Rp 17.596 per dolar AS, memaksa para investor untuk segera meracik ulang strategi portofolio mereka. Kondisi pasar yang fluktuatif ini menuntut ketajaman dalam mengelola likuiditas dan kualitas aset agar portofolio tetap optimal.

Financial Planner sekaligus CEO and Founder Finansialku, Melvin Mumpuni, menilai koreksi tajam IHSG saat ini dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk mengoleksi saham-saham berkualitas. Investor disarankan membidik saham blue chip atau saham dengan fundamental solid, utang rendah, dan rutin membagikan dividen dengan menerapkan strategi pembelian bertahap atau dollar-cost averaging.

Sektor perbankan besar, konsumer primer, dan komoditas tertentu dinilai memiliki ketahanan yang lebih baik dalam menghadapi tekanan pasar. Selain saham, instrumen alternatif seperti emas dapat menjadi pilihan tepat untuk melindungi nilai aset dari pelemahan rupiah, dengan potensi imbal hasil historis di kisaran 8% hingga 11% per tahun.

Bagi investor yang mencari keamanan lebih, Surat Berharga Negara (SBN) atau reksadana pendapatan tetap bisa menjadi instrumen menarik. Mengingat tren suku bunga tinggi, SBN menawarkan imbal hasil yang kompetitif di kisaran 6,5% hingga 7,5% per tahun. Sementara untuk menjaga likuiditas atau kebutuhan dana jangka pendek, reksadana pasar uang dan deposito dengan imbal hasil 3% hingga 5% tetap menjadi pilihan utama.

Terkait komposisi ideal, Melvin memberikan panduan alokasi aset berdasarkan profil risiko. Untuk investor agresif, portofolio dapat diisi dengan 50% saham, 30% obligasi, serta 20% kas dan emas. Investor moderat disarankan mengalokasikan 30% saham, 50% obligasi, dan 20% kas serta emas. Sementara investor konservatif disarankan membagi portofolio dengan porsi 30% saham, 50% obligasi, dan 20% aset likuid atau emas.

Melvin menegaskan bahwa kunci sukses menghadapi volatilitas pasar adalah kedisiplinan dan objektivitas. Investor diminta untuk melakukan rebalancing portofolio berdasarkan proyeksi prospek masa depan, bukan didorong oleh emosi atas kerugian masa lalu.

Gejolak pasar saat ini dianggap sebagai ujian bagi para investor. Investor yang tangguh adalah mereka yang mampu mempertahankan aset berkualitas sembari memiliki likuiditas yang cukup untuk memanfaatkan peluang saat harga aset sedang dalam posisi diskon. Di setiap kondisi pasar yang tertekan, selalu tersimpan potensi keuntungan bagi mereka yang jeli melihat peluang.

83175 mtwzykyk00gmmtal3n5kvxmf79fnutdz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *