Jakarta – Pasar aset privat global diprediksi menjadi primadona bagi investor sepanjang 2026. Tren ini didorong oleh kebutuhan diversifikasi portofolio serta masifnya kebutuhan pendanaan untuk pengembangan teknologi artificial intelligence (AI).
Laporan JPMorgan Alternative Investments Outlook 2026 mencatat, total aset kelolaan di pasar privat kini telah menembus angka US$ 20 triliun. Pertumbuhan ini mencerminkan pergeseran struktural di pasar modal global, di mana banyak perusahaan memilih untuk tetap menjadi entitas privat lebih lama dengan mengandalkan pendanaan dari venture capital, growth equity, hingga private equity buyout.
Perubahan strategi perusahaan tersebut memberikan peluang bagi investor untuk terlibat sejak tahap awal siklus pertumbuhan bisnis. JPMorgan menilai, perusahaan kini lebih mudah mengakses pendanaan privat dalam skala besar untuk keperluan ekspansi dibandingkan harus bergantung sepenuhnya pada pasar saham publik.
Teknologi AI menjadi katalis utama dalam fenomena ini. Seiring transisi AI dari tahap uji coba ke implementasi skala besar, permintaan dana untuk membangun infrastruktur digital seperti pusat data, jaringan pendukung, dan energi semakin melonjak. Belanja modal besar dari perusahaan hyperscaler dunia pun mulai mengalihkan arus investasi dari pasar saham publik menuju pasar privat.
Bagi investor, pasar privat menawarkan alternatif dengan valuasi yang relatif lebih menarik, khususnya di segmen perusahaan skala kecil dan menengah. Hal ini menjadi antitesis bagi mereka yang mulai mengkhawatirkan valuasi mahal pada saham-saham teknologi raksasa di kelompok Magnificent 7 yang mendominasi indeks S&P 500.
Di sisi lain, instrumen private credit diperkirakan tetap menjadi motor utama pendanaan korporasi. JPMorgan mencatat, senior secured direct lending di Amerika Serikat masih mampu memberikan imbal hasil atau yield sekitar 200 hingga 300 basis poin lebih tinggi dibandingkan obligasi publik.
Meskipun sempat muncul kekhawatiran terkait risiko gagal bayar pada 2025, analis menilai risiko tersebut bersifat spesifik pada emiten tertentu dan tidak mengancam sistemik. Begitu pula dengan private equity, yang diproyeksikan mencatatkan kinerja positif seiring ekspektasi penurunan suku bunga global yang akan memicu aktivitas merger, akuisisi, hingga penawaran umum perdana saham atau IPO.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik dan perbedaan kebijakan bank sentral global membuat strategi hedge fund berbasis macro dan relative value turut dilirik sebagai instrumen pelindung nilai. Secara keseluruhan, transformasi digital dan perubahan struktur pembiayaan global menempatkan pasar privat sebagai tema investasi strategis yang akan mendominasi arus modal sepanjang tahun depan.














