FENESIA – Salah satu komponen yang paling penting dalam membuat baterai adalah nikel, dan Indonesia dianugerahi nikel yang melimpah.
Hal ini dapat menjadi sebuah peluang bagi Indonesia untuk menjadi pusat kendaraan listrik. Mengutip dari DetikOto, Agus Tjahajana Wirakusumah, Ketua Tim Percepatan Proyek Electric Vehicle Battery Nasional, mengklaim Indonesia bisa bersaing dan menjadi pusat kendaraan listrik. Apalagi, Indonesia diberkahi dengan nikel yang melimpah.
Agus dalam wawancara eksklusif bersama CNBC Indonesia mengatakan, “Yang harus kita ketahui adalah bahwa harga baterai kendaraan listrik itu cukup mahal. Berkisar antara 35-45% dari kendaraan itu.”
Menurutnya, hal ini akan menjadi sebuah keunggulan bagi Indonesia. Ini menjadi kesempatan Indonesia untuk memiliki pabrik baterai kendaraan listrik.
“Jadi baterai yang (harganya) 35% (dari harga mobil listrik), itu beratnya sendiri bisa sampai 30-40% dari berat kendaraan. Jadi kalau mobil beratnya 1 ton, baterainya sendiri sudah 300 kg. Jadi tidak menguntungkan kalau misalnya (mobil listrik) dibuat di Thailand, membawa baterai dari sini, kemudian dipasang di sana, kemudian dibawa balik ke sini,” jelas Agus.
“Kenapa tidak langsung saja dibuat di sini, baterainya di sini, komponennya di sini. Toh komponen di sini dan di Thailand sudah sama, daya saing kita sama. Jadi kita memiliki kekayaan alam yang kita harus manfaatkan untuk menjadi suatu modal untuk mengembangkan industri otomotif ke depan,” lanjutnya.
Agus mengungkapkan Indonesia akan mengembangkan dan mengekspor baterai mobil listrik. Jadi, selain mengekspor kendaraannya, Indonesia diharapkan bisa mengekspor baterai mobil listrik itu. “Karena itu tidak dimiliki oleh negara lain,” ujarnya.







