Ecozone

IHSG Menguat Tipis, Rupiah Melemah Jelang Penutupan Akhir Pekan

11
×

IHSG Menguat Tipis, Rupiah Melemah Jelang Penutupan Akhir Pekan

Sebarkan artikel ini
b842459131958fed28bb59b3499734d1.jpg
b842459131958fed28bb59b3499734d1.jpg

Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan sesi kedua pada Jumat (19/6) dengan catatan positif. Berdasarkan data dari Stockbit, indeks komposit mampu mempertahankan posisi di zona hijau setelah melewati dinamika pergerakan yang cukup variatif sepanjang hari.

IHSG ditutup dengan penguatan tipis sebesar 4,8 poin atau setara dengan 0,08 persen. Dengan kenaikan tersebut, indeks acuan pasar modal Indonesia ini bertengger di level 6.177,139.

Hasil berbeda ditunjukkan oleh indeks LQ45 yang justru mengalami tekanan jual cukup signifikan. Indeks tersebut mencatatkan koreksi sebesar 1,224 persen dan harus berakhir di level 609,402.

Aktivitas perdagangan di bursa domestik berlangsung dengan intensitas tinggi. Total nilai transaksi harian mencapai Rp 25,71 triliun dengan volume perdagangan yang melibatkan 31,60 miliar lembar saham. Frekuensi perdagangan juga tercatat cukup ramai dengan total 1,74 juta kali transaksi.

Di tengah dinamika pasar, sejumlah saham mencatatkan kenaikan harga yang signifikan atau masuk dalam jajaran top gainers. Saham SDMU memimpin dengan kenaikan 24 poin atau 34,29 persen ke posisi 94. Selain itu, BCIC dan ZONE masing-masing menguat 25,00 persen, diikuti oleh SMMT dengan kenaikan 20,79 persen serta MORA yang melonjak 20,00 persen ke level 7.800.

Sebaliknya, tekanan jual menimpa sejumlah saham yang masuk kategori top losers. MLPT memimpin penurunan dengan koreksi 14,97 persen ke harga 16.325. Saham BNLI menyusul dengan pelemahan 14,83 persen, diikuti TRIN yang turun 11,31 persen, SURE sebesar 10,19 persen, dan LUCY yang terkoreksi 9,88 persen.

Investor juga mencermati saham-saham dengan nilai transaksi terbesar. Saham DSSA memimpin nilai transaksi dengan total Rp 2,50 triliun, diikuti oleh BBCA senilai Rp 2,29 triliun, BMRI Rp 1,63 triliun, BBRI Rp 1,51 triliun, dan TPIA sebesar Rp 1,42 triliun. Dari sisi volume, saham DSSA kembali memimpin dengan 29,93 juta lembar, disusul BUMI 26,24 juta lembar, BUKA 14,09 juta lembar, GOTO 12,62 juta lembar, dan DEWA 8,46 juta lembar.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terpantau melemah pada penutupan sore ini. Mata uang Garuda berada di posisi Rp 17.804 per dolar AS. Meskipun melemah secara harian, posisi ini mencatatkan apresiasi dibandingkan harga pembukaan pagi tadi yang sempat berada di level Rp 17.821 per dolar AS.

Kondisi bursa saham di kawasan Asia juga cenderung bergerak variatif pada penutupan perdagangan hari ini. Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat menguat 0,28 persen ke level 71.250,06. Namun, tekanan terjadi di bursa regional lainnya seperti Indeks Hang Seng di Hong Kong yang turun 1,60 persen, SSE Composite di China terkoreksi 0,43 persen, serta Straits Times di Singapura yang melemah 0,57 persen.

fa48f6fb5cffadd8f06789539e0128f4.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Perkembangan industri aset digital di Indonesia kembali menunjukkan dinamika baru. IDNGold (IDNG), aset digital yang dikembangkan PT Smart Billionaire Indonesia (SBI), resmi dapat diakses dan diperdagangkan melalui platform Reku mulai 18 Juni 2026 pukul 14.00 WIB. Langkah ini dinilai jadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap aset digital yang menggabungkan teknologi blockchain dengan nilai nyata melalui…

76013dc261354886e8081fcd89265a2b.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar modal Indonesia kembali mendapat sorotan pasca MSCI merilis penilaian dan memberikan catatan. Dalam MSCI Global Market Accessibility Review yang dirilis Jumat (19/6/2026) dini hari waktu Indonesia, MSCI masih menyoroti beberapa hambatan struktural yang membuat akses pasar Indonesia dinilai kurang kompetitif dibanding negara emerging market lainnya. MSCI pun secara eksplisit menurunkan penilaian Information Flow dari…

059518d15c625a7378cdfcf1aeed9c5e.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Emiten produsen batubara terafiliasi Grup Sinar Mas, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) mengalami penurunan kinerja keuangan dalam tiga bulan pertama 2026. Peluang perbaikan kinerja cukup terbuka pada sisa 2026, meski hal itu bergantung pada realisasi kebijakan relaksasi produksi dan perkembangan harga batubara global. Berdasarkan laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), pendapatan usaha GEMS tercatat sebesar US$…