Jakarta, Fenesia.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis (9/7) dengan terkoreksi ke zona merah setelah mengalami tekanan jual pada pembukaan pasar.
Indeks tercatat dibuka melemah sebesar 8,405 poin atau setara dengan 0,14 persen ke posisi 5.864,966.
Kondisi serupa sudah terlihat sejak sesi preopening di mana pasar menunjukkan sentimen negatif.
Pada fase tersebut, IHSG sempat melemah 7,604 poin atau 0,13 persen ke level 5.865,768.
Tekanan pada sektor finansial dalam negeri juga merembet ke pasar valuta asing sejak pagi hari.
Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah terpantau berada di angka Rp 18.066 per dolar AS pada pukul 09.00 WIB.
Posisi tersebut menunjukkan pelemahan mata uang Garuda sebesar 52 poin atau 0,29 persen terhadap mata uang Paman Sam.
Pergerakan indeks domestik yang melandai ini sedikit kontras dengan dinamika bursa saham di kawasan Asia yang cenderung variatif.
“Berikut kondisi bursa saham Asia pagi ini:” ujar laporan pasar dikutip dari Fenesia.com pada Kamis (9/7/2026).
Ia menambahkan, Indeks Nikkei 225 di Jepang tampak memimpin penguatan dengan kenaikan signifikan.
Indeks tersebut tercatat naik 1.036,703 poin atau 1,55 persen ke level 67.855,703.
Sentimen positif juga menyelimuti bursa Hong Kong pada perdagangan pagi ini.
Indeks Hang Seng di Hong Kong terpantau naik 82,839 poin atau 0,34 persen ke posisi 24.282,300.
Kinerja serupa turut ditunjukkan oleh bursa Singapura yang bergerak di zona hijau.
Indeks Straits Times di Singapura naik 25,260 poin atau 0,47 persen ke level 5.394,830.
Namun, tidak semua bursa regional mampu mempertahankan tren kenaikan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Indeks SSE Composite di China justru mencatatkan koreksi tipis serupa dengan kondisi IHSG.
Indeks tersebut turun 1,179 poin atau 0,03 persen ke level 3.969,699.
Analis pasar menilai gejolak nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang menahan laju IHSG di awal sesi.
Investor cenderung mengambil langkah hati-hati dalam merespons fluktuasi mata uang yang cukup tajam.
Selain itu, arus modal asing di pasar saham domestik menjadi perhatian utama bagi para pelaku pasar.
Volume perdagangan di pagi hari masih terpantau moderat dengan kecenderungan aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Pelaku pasar saat ini masih menunggu rilis data ekonomi regional lainnya untuk menentukan arah investasi jangka pendek.
Stabilitas pasar di kawasan Asia nantinya akan sangat bergantung pada respons investor terhadap kebijakan moneter global.
Pihak otoritas bursa diperkirakan akan terus memantau pergerakan harga saham untuk memastikan perdagangan berjalan teratur.
Para pelaku pasar disarankan untuk tetap mencermati data makroekonomi yang akan dirilis sepanjang hari ini.







