BeritaPemerintahan

Menaker Yassierli Minta Mahasiswa Asah Kompetensi Hadapi Gempuran Teknologi AI

15
×

Menaker Yassierli Minta Mahasiswa Asah Kompetensi Hadapi Gempuran Teknologi AI

Sebarkan artikel ini

Medan – Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menegaskan urgensi pembentukan sumber daya manusia (SDM) yang adaptif di tengah gempuran transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, dinamika industri saat ini menjadi momentum krusial bagi angkatan kerja untuk menguasai keterampilan relevan agar mampu memenangkan persaingan di masa depan.

Pesan tersebut disampaikan Yassierli dalam kuliah umum bertajuk “Menyiapkan SDM Unggul Masa Depan” di Universitas Sumatera Utara (USU), Rabu (8/7/2026).

Ia menepis kekhawatiran bahwa teknologi akan melenyapkan profesi, melainkan lebih kepada mentransformasi cara kerja di berbagai sektor industri.

“Tantangan ketenagakerjaan saat ini tidak sekadar menyediakan lapangan kerja. Pemerintah dituntut memastikan angkatan kerja memiliki kompetensi yang selaras dengan teknologi agar mampu diserap industri,” ujar Yassierli.

Guna menjawab tantangan tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) kini mengintensifkan pelatihan vokasi melalui skema upskilling dan *eskilling.

Langkah ini dibarengi dengan perluasan akses layanan ketenagakerjaan melalui platform digital SIAPkerja. Ekosistem ini mengintegrasikan layanan pelatihan, sertifikasi kompetensi, informasi lowongan kerja, hingga program pemagangan.

Yassierli menambahkan, pihaknya tengah mengejar target 150 ribu peserta dalam Program Pemagangan Nasional. Langkah strategis ini dinilai mendesak mengingat perkembangan AI, digitalisasi, dan ekonomi hijau green economy terus mengubah standar kebutuhan tenaga kerja global.

Merujuk laporan World Economic Forum, Yassierli mengingatkan meski ada potensi pengurangan pada jenis pekerjaan tertentu, munculnya profesi baru akan terus terjadi.

Oleh karena itu, ia mendorong perguruan tinggi untuk lebih responsif dalam menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan pasar.

“Industri saat ini lebih mengutamakan kompetensi. Penilaian calon tenaga kerja tidak lagi hanya bergantung pada ijazah, melainkan pada kemampuan individu dalam menyelesaikan pekerjaan,” tegasnya.

Ia pun mengajak generasi muda untuk tidak sekadar mengandalkan ijazah, melainkan mulai membangun portofolio sejak dini.

Pengalaman magang, sertifikasi, hingga keterlibatan organisasi menjadi bekal vital yang harus direncanakan jauh sebelum memasuki dunia kerja.

“Curriculum Vitae (CV) sebaiknya tidak disusun secara mendadak saat melamar kerja, melainkan harus direncanakan sejak dini. Dengan membangun pengalaman dan kompetensi sejak awal, seseorang akan jauh lebih siap menghadapi persaingan di pasar kerja,” pungkasnya.