Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah pada Selasa (24/2/2026). Pelemahan dipicu respons pasar terhadap ketidakpastian kebijakan tarif AS.
IHSG turun 115,25 poin atau 1,37 persen ke level 8.280,83.
Indeks LQ45 juga turun 10,13 poin atau 1,19 persen ke posisi 837,63.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyebut pelemahan IHSG dan Rupiah terjadi di tengah ketidakpastian global.
Menurut Ratna, ketidakpastian kebijakan tarif AS dan prospek suku bunga AS yang ketat membuat indeks dolar AS menguat.
Kondisi ini membuat harga emas terkoreksi dari level tertinggi dalam tiga pekan terakhir. Aksi profit taking juga memengaruhi.
Presiden AS Donald Trump dijadwalkan berpidato di Kongres AS mengenai laporan tahunan resmi.
Dari Eropa, pelaku pasar akan mencermati data GfK Consumer Confidence Jerman periode Maret 2026. Data ini diperkirakan di level minus 23,8 dari sebelumnya minus 24,1.
Inflasi Euro Area bulan Januari 2026 diperkirakan melambat menjadi 1,7 persen year on year (yoy) dari sebelumnya 2 persen (yoy).
Di Asia, bank sentral China kembali mempertahankan suku bunga pinjaman tetap selama sembilan bulan berturut-turut pada Februari 2026. Loan Prime Rate 1Y sebesar 3 persen dan Loan Prime Rate 5Y di level 3,5 persen.
Jakarta, Kamis (29/1/2026), IHSG sempat mengalami trading halt pada sesi pertama pukul 09.30 WIB. Meski demikian, IHSG mampu memangkas koreksi pada akhir sesi satu.
Pada tengah hari, IHSG terperosok 492 poin atau ambles 5,91% ke level 7.828,47.
Tekanan pada IHSG dipicu sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI menyoroti kekhawatiran investor global terhadap transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia.
Tercatat 720 saham turun, 65 naik, dan 22 tidak bergerak.
Nilai transaksi mencapai Rp 32,75 triliun, melibatkan 42,91 miliar saham dalam 2,55 juta kali transaksi.







