Jakarta – Harga emas dunia mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Kamis (18/6/2026). Komoditas logam mulia ini melemah akibat kombinasi sentimen kebijakan moneter yang ketat dari Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) serta penguatan nilai tukar dolar AS.
Harga emas spot terpantau turun 0,8 persen menjadi US$ 4.225,39 per ons pada pukul 13.30 waktu AS. Penurunan ini memperpanjang tren negatif setelah pada pekan sebelumnya harga emas sempat menyentuh level terendah sejak November 2025.
Sementara itu, kontrak emas berjangka AS ditutup melemah 3,1 persen ke posisi US$ 4.245,9. Pelemahan ini juga diikuti oleh logam mulia lainnya, di mana harga perak spot turun 3 persen menjadi US$ 65,96 per ons, platinum terkoreksi 1,9 persen ke level US$ 1.703,94, dan palladium jatuh 2,2 persen menjadi US$ 1.285,96.
Peter Grant, wakil presiden sekaligus senior metals strategist di Zaner Metals, menilai faktor utama yang menekan pasar adalah arah kebijakan hawkish dari The Fed. Menurutnya, kebijakan tersebut mendorong dolar AS ke level tertinggi baru tahun ini, yang pada gilirannya memberikan tekanan kuat terhadap harga emas.
The Fed diketahui telah menahan suku bunga pada Rabu (17/6/2026). Namun, sebanyak 9 dari 19 pembuat kebijakan mengisyaratkan perlunya kenaikan suku bunga lanjutan sebelum akhir tahun 2026.
Pasca pernyataan tersebut, dolar AS terus menguat dan sempat menyentuh level tertinggi dalam satu tahun pada Kamis. Fenomena ini membuat emas yang dihargakan dalam mata uang dolar menjadi jauh lebih mahal bagi investor asing, sehingga menurunkan minat beli di pasar global.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember mencapai 85 persen. Angka ini melonjak tajam dibandingkan estimasi sebesar 61 persen sebelum The Fed mengeluarkan pernyataan kebijakan terbarunya.
Dalam instrumen investasi, emas dikenal sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil atau yield. Oleh karena itu, komoditas ini cenderung sulit bertahan dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Selain kebijakan moneter, dinamika geopolitik juga memberikan pengaruh pada pasar. Kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran yang meredakan kekhawatiran inflasi turut memberi batas pada penurunan harga emas lebih dalam.
Teks kesepakatan sementara untuk mengakhiri perang tersebut telah dirilis oleh kedua belah pihak pada Rabu. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan ancaman akan melanjutkan serangan jika pejabat Iran gagal memenuhi komitmen yang telah disepakati.
Sentimen gencatan senjata ini berimbas pada pasar energi. Kontrak Brent jatuh ke posisi terendah sejak 2 Maret, tepatnya saat hari pertama perdagangan setelah serangan awal AS-Israel terhadap Iran. Kondisi serupa juga terjadi pada WTI yang berada di level terendah sejak 4 Maret, yang secara tidak langsung turut memengaruhi pergerakan aset komoditas lainnya.







