News

AS dan Iran Sepakati Jalan Damai, Timur Tengah Memulai Babak Baru

15
×

AS dan Iran Sepakati Jalan Damai, Timur Tengah Memulai Babak Baru

Sebarkan artikel ini
b93593c50f4b1938b3aecf148a7b42fd.jpg
b93593c50f4b1938b3aecf148a7b42fd.jpg

Versailles – Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran resmi tercapai, menandai berakhirnya konflik berkepanjangan di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian telah menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan seluruh aktivitas perang antara kedua negara.

Pejabat Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa penandatanganan dokumen tersebut dilakukan oleh Donald Trump di sela-sela acara makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles. Agenda ini berlangsung menyusul rangkaian pertemuan KTT G7 pada Rabu (17/6). Saat meninggalkan lokasi pertemuan, Trump secara singkat mengonfirmasi kepada awak media bahwa ia baru saja merampungkan penandatanganan kesepakatan tersebut.

Pemerintah Iran turut memberikan konfirmasi resmi melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baqaei. Dokumen yang secara formal diberi nama Islamabad Memorandum of Understanding tersebut telah difinalisasi dan disahkan oleh kedua kepala negara.

Menurut Baqaei, proses pengesahan dilakukan secara elektronik dan jarak jauh. Pihak Iran menilai bahwa legitimasi politik yang diberikan melalui tanda tangan para pemimpin negara sudah mencukupi, sehingga tidak ada urgensi untuk menyelenggarakan seremoni resmi secara fisik.

Sebelumnya, pemerintah Swiss sempat merencanakan upacara penandatanganan yang akan digelar pada Jumat (19/6) di sebuah hotel mewah di dekat Danau Lucerne. Pertemuan tersebut sedianya dihadiri oleh Ketua Parlemen Iran Bagher Ghalibaf serta Wakil Presiden AS JD Vance. Namun, Baqaei menegaskan bahwa mekanisme penandatanganan langsung oleh pejabat tertinggi kedua negara memberikan konsekuensi politik yang lebih kuat.

Setelah proses pengesahan rampung, kedua negara sepakat untuk memasuki masa negosiasi lanjutan selama 60 hari ke depan. Periode ini akan difokuskan pada pembahasan tahapan implementasi teknis dari perjanjian gencatan senjata permanen tersebut.

Meski kesepakatan telah tercapai, Donald Trump melontarkan peringatan keras bagi Iran. Dalam konferensi pers pasca-KTT G7, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan segan untuk kembali melancarkan serangan besar-besaran apabila Iran terbukti melanggar komitmen damai yang telah disepakati.

Trump menyatakan harapannya agar Iran menghormati perjanjian tersebut. Di sisi lain, ia sempat melontarkan pujian bagi rakyat Iran sebagai bangsa yang cerdas, seraya menegaskan kembali urgensi penyelesaian gencatan senjata permanen dalam waktu dua bulan mendatang.

Respon pasar global terhadap berita ini cukup signifikan. Harga minyak dunia tercatat menguat hampir 1 persen pada Rabu (17/6). Kontrak berjangka minyak mentah Brent ditutup naik 59 sen atau 0,75 persen menjadi 79,55 dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 74 sen atau 0,97 persen menjadi 76,79 dolar AS per barel.

Data Administrasi Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah Amerika Serikat telah turun selama 10 pekan berturut-turut, mencapai level terendah sejak 1985 akibat gangguan pasar selama perang. Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menyebut langkah negara-negara dunia dalam mengurangi cadangan strategis dilakukan demi meredam gejolak pasokan di Timur Tengah.

Namun, pengamat tetap mewaspadai potensi kelebihan pasokan di masa depan. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan adanya lonjakan pasokan global hingga 8 juta barel per hari pada 2027, yang melampaui estimasi kenaikan permintaan sebesar 2 juta barel per hari. Analis riset Empire FX, Crispus Nyaga, menilai pasar mungkin masih meremehkan besarnya potensi kelebihan pasokan yang akan membebani harga di masa mendatang.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menyambut baik langkah ini dan mengonfirmasi bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali oleh Iran, sementara Amerika Serikat akan mencabut blokade lautnya. Pakistan, dengan dukungan Qatar, dijadwalkan menjadi tuan rumah pertemuan teknis di Swiss pada Jumat mendatang untuk menindaklanjuti kesepakatan tersebut.

Bagher Ghalibaf menambahkan bahwa setelah periode 60 hari berakhir, Iran berencana mengenakan biaya atas layanan navigasi di Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa Iran memiliki hak kedaulatan atas jalur tersebut. Konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 ini tercatat telah menewaskan lebih dari 7.000 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, serta memicu krisis energi dan pangan global.