Ecozone

Harga Emas dan Perak Tertekan Kebijakan The Fed, Berikut Proyeksinya

11
×

Harga Emas dan Perak Tertekan Kebijakan The Fed, Berikut Proyeksinya

Sebarkan artikel ini
e8b2448ba00d1d24e4f438af4b7a5ffa.jpg
e8b2448ba00d1d24e4f438af4b7a5ffa.jpg

Jakarta – Harga emas dan perak di pasar global saat ini berada dalam tekanan berat akibat kebijakan moneter ketat yang diterapkan oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Sikap hawkish dari otoritas moneter tersebut menjadi faktor dominan yang menghambat laju penguatan logam mulia di tengah mulai meredanya ketegangan geopolitik dunia.

Analis komoditas sekaligus pendiri Traderindo.com, Wahyu Laksono, menyatakan bahwa pengaruh kebijakan The Fed saat ini jauh lebih signifikan dibandingkan dengan faktor geopolitik. Menurutnya, meredanya konflik global, termasuk kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada penurunan harga minyak bumi, turut memperlemah posisi emas yang selama ini berfungsi sebagai aset lindung nilai.

Wahyu menjelaskan bahwa kombinasi dari kebijakan suku bunga tinggi dan berkurangnya ketidakpastian geopolitik menciptakan tekanan ganda terhadap logam mulia. Di satu sisi, ekspektasi terhadap suku bunga yang tinggi dalam jangka panjang mendorong investor untuk beralih ke aset-aset yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Di sisi lain, berkurangnya ketidakpastian global membuat fungsi emas sebagai instrumen safe haven menjadi kurang relevan bagi pelaku pasar.

Sikap hawkish The Fed, menurut Wahyu, adalah faktor paling dominan yang menekan harga emas dan perak saat ini. Sementara itu, meredanya ketegangan geopolitik hanya menjadi faktor tambahan yang semakin mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai. Pernyataan tersebut disampaikan Wahyu pada Jumat (19/6/2026).

Kebijakan suku bunga tinggi yang dipertahankan dalam waktu lama meningkatkan opportunity cost bagi investor yang memegang emas dan perak. Hal ini dikarenakan logam mulia tidak memberikan imbal hasil berupa bunga maupun dividen. Selain itu, kebijakan ini cenderung memperkuat nilai tukar dolar AS. Mengingat emas diperdagangkan dalam denominasi dolar, penguatan mata uang AS tersebut membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor global, yang pada akhirnya menekan tingkat permintaan.

Secara teknikal, tren harga emas menunjukkan kecenderungan pelemahan. Data dari Trading Economics menunjukkan harga emas global saat ini berada di level US$ 4.151 per ons troi. Angka ini mengalami penurunan signifikan setelah sempat menyentuh level tertinggi di atas US$ 5.423 per ons troi pada akhir Januari 2026.

Wahyu menambahkan bahwa pergerakan harga saat ini tengah menguji area support krusial di kisaran US$ 4.097 per ons troi. Apabila level tersebut tertembus, terdapat potensi penurunan lebih lanjut menuju area di bawah US$ 4.000 per ons troi. Koreksi harga diprediksi masih akan berlanjut dalam jangka pendek hingga menengah.

Meski demikian, emas diakui masih memiliki daya tarik sebagai aset diversifikasi portofolio untuk mengantisipasi potensi perlambatan ekonomi global atau munculnya gejolak pasar di masa depan. Untuk kuartal III-2026, harga emas global diprediksi bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Jika tekanan bearish berlanjut, harga emas berpotensi mencari titik keseimbangan baru di kisaran US$ 3.800 hingga US$ 4.000 per ons troi.

Sebaliknya, kisaran atas harga emas diproyeksikan berada pada level US$ 4.800 hingga US$ 5.000 per ons troi, dengan catatan terjadi perubahan sentimen pasar atau pelonggaran kebijakan moneter. Untuk pasar domestik, harga emas Antam akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi pergerakan harga emas global serta fluktuasi nilai tukar rupiah.

Secara umum, harga emas Antam pada kuartal III-2026 diperkirakan bergerak stabil dengan kecenderungan menguat terbatas pada rentang Rp 2.600.000 hingga Rp 3.300.000 per gram. Investor disarankan untuk terus mencermati data inflasi, ketenagakerjaan AS, keputusan suku bunga The Fed, pergerakan indeks dolar AS (DXY), serta imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sebagai indikator utama arah harga logam mulia.

446b0adeec150b3f3584f02bedaefa3b.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis pada akhir pekan lalu. IHSG naik 0,08% ke level 6.177,14 pada perdagangan Jumat (19/6/2026), setelah bergerak cenderung sideways sepanjang sesi. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, menilai pergerakan IHSG masih berada dalam fase konsolidasi. “IHSG bergerak konsolidasi, namun respons investor terhadap laporan MSCI 2026 Global…

7b15c5110d4b73df74793fb55bf7282a.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pergerakan harga emas dan perak masih menghadapi tekanan seiring sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve (The Fed). Pelaku pasar saat ini lebih memperhatikan arah kebijakan suku bunga dibandingkan meredanya ketegangan geopolitik global. Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (19/6/2026), harga emas spot terkoreksi 1,66% dalam sepekan ke level US$ 4.151 per ons troi. Dalam sebulan…

05f54ec3c696b0ceae56bd8914d58b37.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Manajer investasi di pasar modal Indonesia masih mempertahankan strategi berbasis fundamental di tengah beragam sentimen global, termasuk hasil review aksesibilitas pasar Indonesia oleh MSCI yang dirilis pada Jumat (19/6/2026). Di tengah dinamika tersebut, pelaku industri menegaskan bahwa keputusan investasi tidak diambil secara reaktif terhadap satu laporan atau sentimen jangka pendek. Strategi Investasi Tidak Berubah…

a537757c2b507c395c19b0cea1cef099.jpg
Ecozone

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak di kisaran US$64.000 setelah pasar mencerna hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru. Meski bank sentral Amerika Serikat (AS) mempertahankan suku bunga acuannya di rentang 3,50%-3,75%, sikap The Fed yang dinilai lebih hawkish membuat pelaku pasar menurunkan ekspektasi terhadap peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia…