Jakarta – Harga emas dan perak di pasar global kini berada dalam tekanan signifikan seiring dengan sikap hawkish yang terus ditunjukkan oleh bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed). Para pelaku pasar saat ini cenderung mengabaikan meredanya ketegangan geopolitik global dan lebih memfokuskan perhatian mereka pada arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat di masa depan.
Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (19/6/2026), harga emas spot tercatat mengalami koreksi sebesar 1,66 persen dalam sepekan terakhir ke level US$ 4.151 per ons troi. Tren pelemahan ini telah berlangsung selama satu bulan terakhir, dengan total akumulasi penurunan mencapai 8,52 persen.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menyatakan bahwa perjanjian damai antara Amerika Serikat dan Iran memang sempat memberikan sentimen positif bagi pasar. Hal tersebut dinilai mampu menurunkan risiko lonjakan harga energi yang berpotensi memicu inflasi global. Namun, dampak positif dari peredaan tensi geopolitik tersebut masih kalah besar dibandingkan dengan ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang ketat.
Pasar saat ini tengah mencermati berbagai sinyal dari sejumlah anggota Federal Open Market Committee (FOMC) yang masih membuka peluang kenaikan suku bunga pada tahun 2026. Ekspektasi suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang membebani harga logam mulia karena emas dan perak tidak menawarkan imbal hasil seperti instrumen pendapatan tetap lainnya.
Sutopo menjelaskan bahwa fokus pasar saat ini telah bergeser sepenuhnya ke prospek suku bunga. Selama narasi hawkish masih mendominasi kebijakan bank sentral, tekanan terhadap harga emas dan perak diperkirakan akan terus bertahan. Tekanan tersebut muncul melalui dua jalur utama yang saling berkaitan dalam dinamika pasar keuangan global.
Pertama, meningkatnya biaya peluang atau opportunity cost akibat kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kondisi ini secara alami mendorong investor untuk mengalihkan dana mereka ke instrumen pendapatan tetap yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Kedua, ekspektasi suku bunga tinggi yang memperkuat nilai tukar dolar Amerika Serikat. Penguatan dolar biasanya memberikan tekanan terhadap harga komoditas global, termasuk emas, karena aset tersebut menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar.
Meskipun demikian, Sutopo menilai bahwa koreksi harga emas saat ini lebih bersifat penyesuaian pasar terhadap prospek kebijakan moneter baru The Fed. Selama data inflasi Amerika Serikat masih menjadi perhatian utama dan kebijakan moneter tetap ketat, volatilitas harga emas diperkirakan akan terus berlanjut dalam jangka pendek.
Di sisi lain, sebagian investor institusi justru memandang pelemahan harga emas sebagai peluang untuk melakukan akumulasi aset. Hal ini didasari oleh risiko fiskal Amerika Serikat, termasuk defisit anggaran dan ketidakpastian geopolitik global yang masih menjadi faktor pendukung peran emas sebagai penyimpan nilai dalam jangka panjang.
Sutopo menambahkan bahwa fungsi emas sebagai aset safe haven tetap relevan, meskipun karakteristiknya telah bergeser. Jika sebelumnya emas lebih banyak digunakan sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kini logam mulia lebih dipandang sebagai instrumen diversifikasi untuk menghadapi risiko sistemik serta ketidakpastian ekonomi global. Selain itu, permintaan dari bank sentral berbagai negara yang terus melakukan diversifikasi cadangan devisa di luar dolar Amerika Serikat turut menjadi penopang harga emas dalam jangka panjang.
Untuk kuartal III-2026, Sutopo memperkirakan harga emas global akan bergerak dalam rentang US$ 4.600 hingga US$ 4.850 per ons troi, dengan titik tengah di kisaran US$ 4.700 per ons troi. Pergerakan harga ini akan sangat bergantung pada perkembangan data inflasi serta arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
Dalam skenario bearish, harga emas berpotensi turun ke kisaran US$ 4.250 hingga US$ 4.400 per ons troi apabila tensi geopolitik benar-benar mereda dan dolar Amerika Serikat menguat lebih lanjut. Sebaliknya, pada skenario bullish, harga emas berpeluang menguji level psikologis US$ 5.000 per ons troi jika kembali muncul gejolak geopolitik global yang tidak terduga.
Terkait harga emas Antam, diperkirakan masih akan mendapatkan dukungan dari pergerakan nilai tukar rupiah. Jika rupiah tetap berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat, harga emas domestik berpotensi bertahan di level tinggi meskipun harga emas global mengalami koreksi. Dengan asumsi harga emas global berada di kisaran proyeksi tengah, harga emas Antam diprediksi bergerak menuju Rp 2.800.000 hingga Rp 3.000.000 per gram pada kuartal III-2026.
Menurut Sutopo, investor perlu mencermati sejumlah faktor utama yang dapat memengaruhi harga emas. Faktor tersebut meliputi data inflasi Amerika Serikat, arah kebijakan bank sentral, pergerakan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat, perkembangan geopolitik di Timur Tengah, serta aktivitas pembelian emas oleh bank sentral global yang selama ini menjadi salah satu penopang utama permintaan logam mulia.







