Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan sinyal pemulihan dengan mencatatkan penguatan sebesar 1,65% dalam sebulan terakhir, memicu perdebatan di kalangan analis mengenai potensi kelanjutan tren kenaikan atau risiko jebakan pasar pada Senin (20/7/2026).
Dilansir dari analisis Mirae Asset Indonesia, Senior Technical Analyst Nafan Aji Gusta memaparkan bahwa tren jangka panjang IHSG masih berada dalam fase secular uptrend dengan potensi mencapai rekor tertinggi baru.
Nafan menyatakan bahwa IHSG memiliki target jangka panjang di level 10.581 karena pola historis yang konsisten membentuk higher high.
Dari sisi valuasi, indeks saat ini dinilai masih undervalued dengan rasio price-to-earnings (P/E) sebesar 9,10 kali, yang tergolong rendah dibandingkan negara berkembang maupun maju.
Dalam skenario bullish yang realistis, IHSG diperkirakan menguji level 6.666 pada fase wave C, sementara skenario optimistis menargetkan level 7.320.
Sebaliknya, skenario pesimis memproyeksikan IHSG akan menguji level 5.486 pada akhir tahun ini.
Data Bloomberg Heat Map menunjukkan bahwa secara historis, IHSG selalu berada di zona bullish pada periode Juli hingga Agustus dalam enam tahun terakhir.
Pemulihan ini didorong oleh sentimen global yang lebih kondusif pasca melandainya inflasi di Amerika Serikat serta stabilitas suku bunga The Federal Reserve.
Selain itu, S&P Global Ratings yang mempertahankan sovereign rating Indonesia pada level BBB dengan prospek stabil turut memperbaiki persepsi risiko investor global.
Harga komoditas strategis yang relatif bertahan memberikan sokongan bagi emiten berbasis sumber daya alam untuk menjaga kinerja keuangan.
Meskipun demikian, tantangan struktural masih membayangi pasar karena arus dana asing belum sepenuhnya kembali ke bursa domestik.
Isu mengenai transparansi pasar, likuiditas, serta sensitivitas nilai tukar rupiah terhadap dinamika global tetap menjadi perhatian utama investor internasional.
Nafan menekankan bahwa keberhasilan rebound akan ditentukan oleh reformasi transparansi MSCI terkait data Ultimate Beneficial Owner (UBO).
Akselerasi belanja pemerintah dan proyek hilirisasi industri diharapkan menjadi katalis pertumbuhan pada kuartal III dan IV tahun 2026.
Investor disarankan untuk menerapkan strategi akumulasi bertahap secara defensif dan selektif pada saham-saham blue chip yang telah berada di area oversold.
Saham-saham seperti ADRO, ASII, BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM masuk dalam daftar emiten dengan valuasi menarik untuk orientasi jangka menengah dan panjang.
Pelaku pasar tetap diminta waspada terhadap risiko geopolitik, tekanan fiskal, serta kenaikan harga minyak yang dapat menahan laju pemulihan indeks.







