Jakarta – Porsi saham publik atau free float PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) kini tercatat meningkat menjadi 25,7 persen. Kenaikan ini terjadi setelah SCG Chemicals Public Company Limited (SCGC) melakukan penyesuaian kepemilikan sahamnya sebagai bagian dari strategi pengurangan utang atau deleveraging di tingkat perusahaan induk.
Analis Verdhana Sekuritas, Nizam Syafik, menyatakan bahwa peningkatan free float ini merupakan sentimen positif bagi perseroan. Menurutnya, langkah tersebut mampu mendongkrak likuiditas saham TPIA di pasar modal sekaligus memperluas akses bagi investor, terutama investor institusi global yang menjadikan ketersediaan saham publik sebagai salah satu pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan investasi.
Nizam menambahkan bahwa posisi free float TPIA saat ini telah berada di atas batas minimum yang ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Meski porsi saham publik mengalami kenaikan, struktur pengendalian internal perusahaan dipastikan tetap terjaga.
Tiga pemegang saham utama yakni Barito Pacific, SCGC, dan Thai Oil, saat ini masih memegang kendali atas sekitar 74,3 persen saham perusahaan. Nizam menegaskan bahwa proses rebalancing yang dilakukan oleh SCGC tidak memberikan dampak negatif terhadap tata kelola perusahaan, jajaran manajemen, maupun arah strategis jangka panjang TPIA.
“TPIA tetap melanjutkan agenda pertumbuhan yang berfokus pada pengembangan bisnis energi, kimia, dan infrastruktur,” ujar Nizam, Senin (15/6/2026).
Selain perubahan komposisi saham, daya tarik TPIA terletak pada transformasi bisnis yang masif. Perusahaan yang dulunya sangat bergantung pada sektor petrokimia kini telah berevolusi menjadi platform bisnis terintegrasi yang mencakup sektor energi, kimia, dan infrastruktur.
Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, perusahaan telah berkembang dari aset single cracker dengan nilai 1,8 miliar dolar AS menjadi entitas besar dengan potensi pendapatan mencapai 7 miliar hingga 10 miliar dolar AS. Percepatan transformasi ini didorong oleh akuisisi Shell Energy and Chemicals Park Singapore (SECP) atau Aster pada tahun 2025.
Akuisisi tersebut memberikan kontribusi signifikan berupa aset kilang berkapasitas 237 ribu barel per hari serta cracker etilena sebesar 1,1 juta ton per tahun. Perubahan struktur pendapatan terlihat jelas pada kuartal I/2026, di mana segmen energi menjadi penyumbang terbesar dengan porsi mencapai 55 persen dari total pendapatan.
Diversifikasi ke sektor energi dinilai sebagai langkah strategis untuk menghadapi tekanan industri petrokimia global akibat kelebihan kapasitas produksi di China. Dengan sumber pendapatan yang lebih beragam, TPIA kini memiliki ketahanan bisnis yang lebih kuat dan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada siklus petrokimia.
Kinerja keuangan perusahaan pun mencatat hasil positif pada kuartal I/2026 dengan perolehan EBIT tertinggi sepanjang sejarah sebesar 468 juta dolar AS dan laba bersih mencapai 205 juta dolar AS. Segmen energi menyumbang EBIT sebesar 556 juta dolar AS yang didukung oleh margin pengilangan yang kuat di Singapura.
Investasi pada Aster dinilai berpotensi memberikan pengembalian yang lebih cepat dari perkiraan sekaligus memperkuat struktur keuangan perusahaan. Akuisisi tersebut juga memperkuat neraca TPIA melalui pencatatan bargain purchase gain sekitar 1,7 miliar dolar AS.
Dana tersebut memperluas ruang pendanaan bagi ekspansi strategis, termasuk proyek pembangunan Chlor-Alkali Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon senilai 800 juta dolar AS. Proyek kerja sama dengan Danantara dan INA ini ditargetkan beroperasi pada 2027 dengan kapasitas produksi 400.000 ton soda kaustik dan 500.000 ton EDC per tahun untuk kebutuhan domestik serta ekspor PVC.
TPIA juga terus memperkuat integrasi rantai bisnis melalui akuisisi jaringan ritel bahan bakar Esso di Singapura. Dengan pengembangan bisnis infrastruktur melalui PT Chandra Daya Investasi (CDI), perseroan kini mampu menyediakan layanan energi, kepelabuhanan, logistik, penyimpanan, dan air industri untuk mendukung operasional grup maupun pihak ketiga.







