Berita

Finlandia Resmikan Onkalo, Fasilitas Penyimpanan Limbah Nuklir Pertama di Dunia

11
×

Finlandia Resmikan Onkalo, Fasilitas Penyimpanan Limbah Nuklir Pertama di Dunia

Sebarkan artikel ini
melihat-cara-finlandia-kubur-limbah-radioaktif-nuklir-ke-bawah-tanah
melihat cara finlandia kubur limbah radioaktif nuklir ke bawah tanah

Eurajoki – Finlandia bersiap menuntaskan pengelolaan limbah radioaktif dari sisa bahan bakar nuklir melalui pembangunan fasilitas penyimpanan bawah tanah permanen yang diberi nama Onkalo.

Fasilitas yang berada di wilayah Eurajoki ini dibangun di atas formasi batuan dasar yang stabil berusia 1,9 miliar tahun. Onkalo diproyeksikan menjadi tempat pembuangan limbah nuklir permanen pertama di dunia dengan kapasitas tampung mencapai 6.500 ton uranium.

Meski belum beroperasi penuh, persiapan operasional di lokasi tersebut dikabarkan sudah hampir selesai. Otoritas Keselamatan Radiasi dan Nuklir Finlandia (STUK) dijadwalkan memberikan persetujuan akhir pada Juni ini sebagai langkah menuju penerbitan izin operasional.

Kepala Eksekutif Operator Nuklir Teollisuuden Voima Oyj (TVO), Philippe Bordarier, mengungkapkan optimisme terkait jadwal dimulainya operasional fasilitas tersebut. “Kami berharap dapat memulai operasi ini pada akhir tahun ini atau kemungkinan besar pada awal tahun depan,” ujarnya.

Teknis penyimpanan dilakukan dengan mengapsulkan limbah nuklir ke dalam wadah tembaga tahan korosi. Wadah tersebut nantinya diturunkan ke lubang bor sedalam ratusan meter dan dilapisi tanah liat bentonit. Setelah terowongan terisi penuh, lubang akan ditutup menggunakan sumbat beton bertulang baja.

Fasilitas ini dirancang untuk beroperasi selama 100 tahun, namun ditargetkan memiliki tingkat keamanan penyimpanan hingga 100.000 tahun. Ahli kimia dari Posiva, Lauri Parviainen, menegaskan bahwa fasilitas ini pada dasarnya harus dirancang untuk aman selamanya.

Ia menjelaskan bahwa tingkat radioaktif bahan bakar tersebut akan tetap tinggi selama puluhan ribu tahun. “Setelah 100.000 tahun, tingkat radioaktif diperkirakan akan kembali normal, kira-kira sama dengan bijih uranium yang menjadi bahan baku bahan bakar tersebut,” ungkap Parviainen.

Terkait mitigasi risiko jangka panjang, ahli keselamatan nuklir STUK, Jarkko Kyllonen, menyampaikan bahwa pihaknya telah menganalisis berbagai skenario ancaman seperti gempa bumi dan korosi wadah hingga satu juta tahun ke depan. Meski hasil penilaian risiko sejauh ini positif, pengelola tetap memberikan prioritas pengawasan pada 10.000 tahun pertama.

Proyek ambisius ini tidak lepas dari kritik. Pemimpin Asosiasi Konservasi Alam Finlandia, Tapani Veistola, menyatakan keraguannya bahwa tidak ada pihak yang dapat menjamin keamanan fasilitas tersebut dalam jangka waktu ribuan tahun.

Finlandia sendiri telah memanfaatkan energi nuklir sejak tahun 1950-an dan hingga kini masih menyimpan limbah radioaktif di gudang sementara. Melalui aturan hukum tahun 1994, seluruh limbah nuklir hasil produksi domestik diwajibkan untuk disimpan di dalam negeri, menggantikan aturan sebelumnya yang masih memperbolehkan ekspor limbah ke luar negeri.