Berita

Evolusi Pemahaman Manusia Mengenai Fenomena Gempa Bumi dari Masa ke Masa

20
×

Evolusi Pemahaman Manusia Mengenai Fenomena Gempa Bumi dari Masa ke Masa

Sebarkan artikel ini
siapa-orang-pertama-yang-jelaskan-fenomena-gempa-bumi-secara-ilmiah?
siapa orang pertama yang jelaskan fenomena gempa bumi secara ilmiah?

Jakarta – Gempa bumi merupakan fenomena alam yang terjadi setiap hari di berbagai penjuru dunia. Meski sebagian besar getaran berskala kecil dan tidak dirasakan, guncangan besar yang terjadi sering kali memicu kerusakan permanen pada lanskap bumi hingga merenggut ribuan nyawa.

Jauh sebelum seismologi berkembang sebagai disiplin ilmu, peradaban manusia memiliki berbagai mitos untuk menjelaskan penyebab gempa. Masyarakat dunia umumnya meyakini bahwa guncangan bumi dipicu oleh pergerakan makhluk raksasa di bawah tanah, mulai dari ular, kura-kura, ikan lele, hingga laba-laba.

Di Nusantara, masyarakat kuno di Jawa dan Bali meyakini bahwa bumi ditopang oleh seekor naga atau kura-kura raksasa bernama Bedawangnala. Permukaan bumi diyakini berguncang saat hewan tersebut marah atau mengubah posisinya.

Kepercayaan serupa juga ditemukan di India kuno. Masyarakat di sana mempercayai bahwa gempa terjadi akibat pergeseran posisi hewan penyangga bumi seperti ular atau gajah.

Upaya rasional pertama untuk menjelaskan fenomena ini muncul dari pemikiran Aristoteles pada periode 384-322 SM. Filsuf tersebut berhipotesis bahwa guncangan permukaan tanah disebabkan oleh dorongan angin yang terperangkap di dalam bumi.

Menurutnya, angin tersebut terus berusaha mendesak keluar dari dalam lapisan tanah hingga akhirnya memicu getaran di permukaan.

Dalam karyanya yang berjudul Meteorologica, Aristoteles mengategorikan gempa bumi sebagai fenomena atmosfer, setara dengan peristiwa petir, badai, maupun munculnya komet.

Merujuk pada buku “The Founders of Seismology” karya Charles Davison dalam laman projects.eri.ucsb.edu, pengamatan empiris mengenai dampak gempa sangat jarang dilakukan hingga tahun 1750. Masa itu ditandai dengan rangkaian lima gempa bumi kuat yang melanda Inggris.

Titik balik bagi ilmu seismologi modern terjadi pada 1 November 1755, saat gempa dahsyat dan tsunami menerjang Lisbon, Portugal. Bencana ini menelan sekitar 70.000 korban jiwa, di mana banyak di antaranya meninggal dunia saat tengah beribadah di gereja.

Peristiwa di Lisbon menjadi katalisator bagi peningkatan penelitian seismik secara saintifik terkait lokasi, waktu, dan dampak gempa.

Sebelum bencana tersebut, cendekiawan cenderung mengandalkan penjelasan dari sumber klasik seperti Plinius dan Aristoteles. Pasca-gempa Lisbon, pola pikir tersebut ditinggalkan dan beralih sepenuhnya pada pendekatan berbasis pengamatan modern.

Studi mendalam mengenai waktu, lokasi, dan dampak fisik gempa mulai dilakukan secara serius oleh tokoh seperti Elie Bertrand di Swiss dan John Michell di Inggris.

Seiring perkembangan komunikasi global, data pengamatan gempa di berbagai belahan dunia mulai terintegrasi. Salah satu temuan signifikan tercatat setelah gempa di Chile tahun 1822, saat penulis Maria Graham melaporkan adanya perubahan sistematis pada ketinggian garis pantai.

Temuan tersebut kemudian dikonfirmasi kembali pasca-gempa Chile tahun 1835 oleh kapten HMS Beagle, Robert FitzRoy. Pada saat itu, Charles Darwin juga berada di lokasi tersebut guna meneliti geologi Pegunungan Andes.

Di Amerika Serikat, Grove Karl Gilbert menyimpulkan bahwa patahan merupakan ciri utama gempa bumi, bukan sekadar efek samping. Kesimpulan ini ia sampaikan setelah mempelajari patahan akibat gempa Owens Valley, California, pada tahun 1872.

Sebelum periode tersebut, masyarakat luas cenderung meyakini bahwa gempa disebabkan oleh ledakan bawah tanah, sementara patahan dianggap sebagai akibat dari ledakan itu.

Memasuki akhir abad ke-19 hingga awal ke-20, para peneliti Jepang mulai melakukan penyelidikan ilmiah secara intensif. Seikei Sekiya tercatat sebagai profesor seismologi pertama sekaligus pionir dalam analisis kuantitatif rekaman seismik gempa.

Selain itu, terdapat Fusakichi Omori yang dikenal luas melalui studinya mengenai laju peluruhan aktivitas gempa susulan.

Persamaan yang dirumuskan oleh Fusakichi Omori tersebut bahkan masih terus digunakan dalam dunia seismologi hingga saat ini.

Sepanjang abad ke-20, minat terhadap studi ilmiah kegempaan terus berkembang. Penelitian kini telah meluas dengan keterlibatan kontribusi dari berbagai negara, mulai dari Jepang, Amerika Serikat, Eropa, Rusia, Kanada, Meksiko, Cina, Amerika Tengah dan Selatan, Selandia Baru, hingga Australia.