Ecozone

ESDM Tambah Kuota Produksi Nikel 2026 Atasi Kekurangan Bahan Baku Smelter

45
×

ESDM Tambah Kuota Produksi Nikel 2026 Atasi Kekurangan Bahan Baku Smelter

Sebarkan artikel ini
6c6a3d2d2d1fdb0cef02cdda7e1cc927.jpg
6c6a3d2d2d1fdb0cef02cdda7e1cc927.jpg

Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan tambahan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel untuk tahun 2026 guna memenuhi kebutuhan bahan baku smelter yang mengalami kekurangan pasokan, Jumat (10/7/2026).

Dilansir dari Kementerian ESDM, Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyatakan bahwa kebijakan ini diambil untuk mendukung keberlangsungan program hilirisasi industri di dalam negeri.

Tri menjelaskan bahwa secara keseluruhan tidak terdapat kenaikan signifikan dalam jumlah persetujuan RKAB nikel tahun ini.

“Nikel tidak ada kenaikan kecuali hanya memenuhi kebutuhan untuk smelter yang masih kekurangan pasokan,” kata Tri.

Menurut Tri, penambahan volume produksi tersebut lebih banyak dialokasikan untuk jenis nikel kadar rendah atau limonit.

Pihaknya juga memberikan izin produksi tambahan untuk sebagian kecil nikel kadar tinggi atau saprolit.

“Jadi penambahan nikel tidak terlalu signifikan, hanya untuk mengejar yang kurang,” ujar Tri.

Kebijakan penyesuaian RKAB ini sebelumnya telah diatur oleh Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, pada Februari lalu untuk menjaga stabilitas harga komoditas dan mencegah kelebihan pasokan atau oversupply.

Selain sektor nikel, pemerintah juga memberikan tambahan persetujuan RKAB untuk komoditas batu bara yang ditujukan khusus bagi kebutuhan PT PLN (Persero).

Angka pasti mengenai total RKAB sektor minerba 2026 baru akan dirilis secara resmi oleh pemerintah setelah tanggal 31 Juli karena proses revisi masih berlangsung.

PLN sendiri telah mendapatkan tambahan alokasi pasokan batu bara kalori 4.500 GAR sebanyak 16,8 juta ton untuk pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) hingga Desember 2026.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menyatakan bahwa tambahan pasokan ini diberikan oleh Kementerian ESDM sebagai langkah solutif untuk mengatasi kendala pemadaman bergilir.

Tambahan pasokan batu bara tersebut berada di luar alokasi kewajiban pasok domestik atau domestic market obligation (DMO) yang telah ditetapkan sebelumnya.

“Jumlahnya 1,8 juta ton untuk pasokan Juli, dan 3 juta ton per bulan dari Agustus hingga Desember,” kata Darmawan.

Dengan adanya tambahan pasokan tersebut, sistem kelistrikan nasional mendapatkan tambahan daya mampu sebesar 5 gigawatt (GW) di atas kapasitas sebelumnya yang sebesar 35,9 GW.

“Ini tentu saja membuat sistem di Jawa yang tadinya memang kami mengakui ada pemadaman bergilir, sistemnya langsung meningkat menjadi jauh lebih andal,” ujar Darmawan.

PLN mengklaim bahwa gangguan berupa pemadaman bergilir telah berhasil diatasi sepenuhnya sejak 21 Juni 2026.

Sebelumnya, PLN mengakui sempat terjadi penurunan produksi batu bara nasional, terutama untuk kategori kalori tinggi, sementara produksi saat ini masih didominasi oleh batu bara kalori rendah.

“Dengan adanya tambahan pasokan, kendala penyediaan energi listrik yakni pemadaman bergilir yang sempat dapat diselesaikan dengan baik,” kata Darmawan.