Ecozone

ESDM Akan Kurangi Produksi Batu Bara, Upayakan Harga Lebih Baik

132
×

ESDM Akan Kurangi Produksi Batu Bara, Upayakan Harga Lebih Baik

Sebarkan artikel ini
c8f595fc0b274b7fc5f9eb8ea7df7372.jpg
c8f595fc0b274b7fc5f9eb8ea7df7372.jpg

Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana mengurangi produksi batu bara pada tahun 2026. Kebijakan ini diambil untuk mendongkrak kembali harga komoditas strategis tersebut di pasar internasional yang sedang anjlok.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, pada Kamis, 13 November 2025, menyatakan bahwa produksi batu bara akan ditahan karena harganya yang “jebol”. Tri membuka peluang produksi batu bara pada 2026 berada di bawah 700 juta ton, meskipun angka pasti belum ditentukan.

Rencana pemangkasan produksi ini bertujuan mengendalikan harga batu bara di pasar internasional agar kembali terangkat. Tri menambahkan, kondisi ideal adalah produksi besar dengan harga yang bagus.

Saat ini, Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode pertama November 2025 tercatat turun menjadi US$ 103,75 per ton. Angka ini lebih rendah dari US$ 109,74 per ton yang tercatat pada periode kedua Oktober 2025.

Penurunan juga terlihat pada kinerja ekspor komoditas batu bara Indonesia. Dari Januari hingga Juli 2025, nilai ekspor batu bara menurun sebesar 21,74 persen menjadi US$ 13,82 miliar. Pada periode yang sama tahun 2024, kinerja ekspor tercatat sebesar US$ 17,66 miliar.

Tri mencatat, total produksi batu bara pada 2024 mencapai 836 juta ton, melampaui target 710 juta ton atau sebesar 117 persen. Dari jumlah tersebut, 233 juta ton disalurkan ke pangsa industri domestik (DMO) dan 48 juta ton untuk stok batu bara domestik.

Pada 2024, Indonesia mengekspor 555 juta ton batu bara, yang setara dengan sekitar 33–35 persen dari total konsumsi dunia. Untuk realisasi produksi batu bara pada 2025, Tri memperkirakan sekitar 750 juta ton, yang berarti lebih rendah hingga nyaris 100 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya.