Jakarta – Saham-saham di bawah naungan Danantara kini berperan sebagai penyangga utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah kondisi pasar yang masih didera volatilitas serta ketidakpastian ekonomi. Meski pasar sedang fluktuatif, kinerja saham-saham pelat merah tersebut dinilai tetap mampu memberikan ketahanan bagi indeks nasional.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Jumat (19/6/2026), indeks IDX BUMN20 yang mencakup 20 saham Danantara mencatatkan pelemahan sebesar 17,28 persen secara year to date (ytd) ke level 315,2. Kendati terkoreksi, capaian tersebut masih lebih baik dibandingkan IHSG yang mengalami tekanan lebih dalam, yakni terkoreksi sebesar 28,56 persen ke level 6.177,14 pada periode yang sama.
Dinamika perdagangan sempat menunjukkan tren positif pada periode 10 hingga 17 Juni 2026, di mana IDX BUMN20 menguat 9,68 persen, melampaui kenaikan IHSG yang berada di angka 8,27 persen. Namun, pada perdagangan Kamis (18/6/2026), indeks ini sempat melorot 2,41 persen, diikuti pelemahan 2,67 persen pada Jumat (19/6/2026), sementara IHSG justru mencatatkan penguatan tipis 0,08 persen di hari yang sama.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, menilai kinerja IDX BUMN20 yang solid saat ini didorong oleh perpaduan faktor fundamental dan teknikal. Ia menyebut rencana pembelian kembali saham atau buyback oleh sejumlah emiten pelat merah menjadi sinyal positif yang meningkatkan kepercayaan pasar.
Langkah tersebut dianggap sebagai indikasi bahwa valuasi saham Danantara telah kembali ke level yang menarik. Selain itu, arus dana asing yang kembali masuk ke saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid, yang mayoritas merupakan anggota IDX BUMN20, turut memberikan dorongan signifikan.
Arinda menambahkan, stabilitas nilai tukar rupiah, ekspektasi suku bunga yang lebih terkendali pasca Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, serta kinerja keuangan emiten perbankan dan infrastruktur Danantara yang tetap terjaga menjadi katalis tambahan. Menurutnya, capaian IDX BUMN20 yang lebih tahan banting dibandingkan IHSG membuktikan bahwa saham BUMN adalah motor penggerak pasar yang krusial karena bobot dan kapitalisasi pasarnya yang besar.
Di sisi lain, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, memandang penguatan IDX BUMN20 lebih didorong oleh rebound teknikal daripada re-rating fundamental. Ia mencatat bahwa indeks tersebut sangat ditopang oleh bobot saham Himbara dan sektor energi yang menjadi target akumulasi investor institusi.
Wafi menjelaskan, saham-saham Danantara berpeluang untuk kembali menunjukkan kinerja unggul jika hasil tinjauan MSCI memberikan sentimen positif dan kurs rupiah tetap stabil. Meski demikian, ia mengingatkan adanya tantangan dari kenaikan BI-Rate ke level 5,75 persen. Hal tersebut berpotensi menekan Net Interest Margin pada sektor perbankan dan menambah beban bunga bagi emiten infrastruktur.
Menanggapi tantangan tersebut, Arinda menyarankan investor untuk tetap mencermati faktor kebijakan suku bunga, perkembangan ekonomi global, dan realisasi belanja pemerintah. Ia merekomendasikan sektor perbankan seperti BBRI, BMRI, dan BBNI sebagai pilihan utama karena fundamental yang kuat, profitabilitas tinggi, serta konsistensi dalam pembagian dividen. Selain itu, sektor energi dan telekomunikasi juga dinilai menarik.
Arinda memproyeksikan target harga untuk beberapa saham pilihan, yakni ANTM di level Rp 5.000, TINS di level Rp 4.500, BBRI di level Rp 4.000, dan TLKM di level Rp 3.500 per saham. Sementara itu, Wafi menekankan bahwa daya tarik utama saham Danantara tetap terletak pada skala bisnis yang besar, dukungan pemerintah, serta likuiditas yang tinggi bagi para investor.







