Berita

BMKG Peringatkan Cuaca Kering Dominan Meski Potensi Hujan Lokal Tetap Ada

9
×

BMKG Peringatkan Cuaca Kering Dominan Meski Potensi Hujan Lokal Tetap Ada

Sebarkan artikel ini
cuaca-kering-kian-dominan-di-musim-kemarau,-masih-ada-hujan?
cuaca kering kian dominan di musim kemarau, masih ada hujan?

Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa cuaca kering kini semakin mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia seiring dengan tren penurunan intensitas curah hujan. Meski musim kemarau kian meluas, lembaga tersebut menegaskan bahwa potensi hujan lebat secara lokal masih tetap terbuka.

Dalam laporan prakiraan potensi hujan periode 7-13 Juli 2026, BMKG mencatat bahwa pada Dasarian I Juli 2026, sebanyak 72,19 persen wilayah Indonesia berada dalam kategori curah hujan rendah. Sementara itu, 27,80 persen wilayah lainnya masuk dalam kategori menengah, dan tidak ada wilayah yang diprediksi mengalami curah hujan tinggi maupun sangat tinggi.

Dominasi cuaca kering ini terutama terpantau di sebagian besar Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi hujan kategori menengah di beberapa daerah, seperti sebagian Sumatra bagian utara dan tengah, Kalimantan bagian utara, sebagian Maluku, dan pegunungan Papua.

Potensi hujan yang masih tersisa di tengah musim kemarau ini dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer. MJO yang aktif di fase 7 secara spasial diprediksi memengaruhi wilayah pesisir utara Aceh.

Di sisi lain, gelombang Kelvin diperkirakan aktif di Kepulauan Riau, pesisir utara Riau, Kalimantan, pesisir selatan Jawa, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Bali, NTB, NTT, Maluku Utara, serta Papua Barat Daya.

Selain itu, gelombang Rossby Ekuatorial berpotensi memengaruhi kondisi atmosfer di Sumatra Selatan, Lampung, Jawa bagian barat, Maluku, Maluku Utara, Kalimantan Utara, Papua Selatan, NTT, dan Sulawesi Tenggara. Fenomena ini membuka peluang bagi wilayah-wilayah tersebut untuk mengalami pertumbuhan awan hujan secara lokal.

Faktor pendukung lainnya adalah sirkulasi siklonik yang diprediksi aktif di sekitar pesisir Sumatra Selatan dan pesisir barat Sumatra. Kondisi tersebut berpotensi membentuk daerah perlambatan dan belokan angin di wilayah sekitarnya.

Perlambatan, pertemuan, dan belokan angin juga diprakirakan terjadi di Sumatra Barat, Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua Barat. BMKG menjelaskan bahwa faktor-faktor atmosfer tersebut mampu meningkatkan pengangkatan massa udara dan mendukung pertumbuhan awan hujan.

Hal itulah yang menyebabkan potensi hujan masih bisa terjadi di sejumlah wilayah meskipun Indonesia tengah berada pada periode musim kemarau, ujarnya.

Secara keseluruhan, musim kemarau memang semakin meluas dengan intensitas hujan yang cenderung berkurang. Namun, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih tetap terjadi secara lokal di beberapa wilayah.

Berdasarkan data BMKG pada awal Juli, curah hujan tertinggi tercatat di Sumatra Barat dengan 156 mm/hari. Selain itu, curah hujan tinggi terjadi di Sulawesi Utara sebesar 151 mm/hari, Sumatra Utara mencapai 90 mm/hari, Kalimantan Utara 84 mm/hari, dan Maluku Utara 57 mm/hari.