Berita

Blokade Hormuz Ancam Pupuk, Baterai, dan Transisi Energi

89
×

Blokade Hormuz Ancam Pupuk, Baterai, dan Transisi Energi

Sebarkan artikel ini
dampak-blokade-selat-hormuz,-pupuk-langka-hingga-mesin-mri-terancam-berhenti
dampak blokade selat hormuz, pupuk langka hingga mesin mri terancam berhenti

Jakarta – Blokade Selat Hormuz berpotensi memicu gangguan distribusi minyak terburuk. Hal ini diungkapkan Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional, Fatih Birol.

Blokade yang dilakukan Iran sebagai respons atas serangan AS dan Israel tak hanya mengganggu pasokan minyak dunia. Ada banyak komoditas nonminyak dari kawasan yang juga terganggu.

Blokade mengganggu sirkulasi 11 juta barel minyak dan 140 miliar meter kubik gas per hari. Konflik juga mengancam berbagai komoditas lain mulai dari pupuk, mineral langka, dan komoditas lain yang dibutuhkan pertanian hingga transisi energi.

World Economic Forum mencatat sembilan komoditas selain minyak yang terdampak dari konflik AS dan Iran.

Teluk Arab merupakan pusat pertanian global yang menyumbang setidaknya 20 persen ekspor pupuk jalur laut. Sekitar 46 persen perdagangan urea, yang digunakan untuk memproduksi pupuk, juga berasal dari kawasan.

Pasokan ini penting bagi negara-negara dengan sektor pertanian yang besar, seperti India, Brasil, dan China. Gangguan pasokan pupuk dan urea akan meningkatkan harga pangan di seluruh dunia.

Produksi sulfur, produk sampingan dari proses penyulingan minyak dan gas, juga terhenti. Hampir setengah dari perdagangan sulfur dunia melalui Selat Hormuz.

Distribusi sulfur di kawasan itu akan berdampak pada harga sulfur dunia. Sulfur merupakan bahan baku untuk asam sulfat, bahan kimia yang dibutuhkan untuk baterai dan industri fosfor.

Sulfur digunakan dalam proses high-pressure acid leaching (HPAL) untuk memurnikan nikel, kobalt, dan tembaga untuk baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi terbarukan. Komoditas ini sangat penting bagi transisi energi.

Indonesia sebagai salah satu pusat produksi baterai untuk kendaraan listrik akan terdampak dengan lemahnya pasokan sulfur. Kondisi ini akan mengganggu upaya dunia menuju transportasi yang lebih berkelanjutan.

Sepertiga perdagangan metanol dunia melewati Selat Hormuz. Gangguan di celah sempit di pesisir Iran itu menahan distribusi bahan baku untuk resin dan plastik serta akan menimbulkan efek domino pada rantai pasokan bahan kimia lainnya.

Situasi ini akan mempersulit China sebagai pembeli metanol terbesar di dunia. Persediaan di gudang-gudang di pelabuhan turun sampai batas “mengkhawatirkan” bila ekspor dari kawasan masih tertahan.

Hal ini diperkirakan akan menaikkan harga plastik, cat, dan serat sintetis.

Negara-negara produsen minyak juga mengimpor grafit sintetis yang merupakan produk sampingan dari kilang minyak. Grafit digunakan untuk anoda baterai kendaraan listrik (EV).

Kenaikan harga grafit sintetis akan memengaruhi baterai EV dibandingkan bahan baku lainnya. Produksi grafit sintetis sangat bergantung pada kokas minyak bumi (petroleum coke), yang merupakan produk sampingan dari penyulingan minyak.

Jika kilang minyak lebih memilih fokus memproduksi produk lain yang nilai jualnya lebih tinggi saat harga minyak naik, maka pasokan kokas ini akan berkurang.

Karena ketergantungan tersebut, harga grafit sintetis terancam melonjak lebih tajam dibandingkan material baterai lainnya. Hal ini disebabkan oleh kelangkaan pasokan bahan baku utama tersebut.

Selain grafit sintetis, grafit alami juga mengalami tekanan harga. Faktor utamanya adalah biaya pengiriman (logistik) yang terus meningkat sehingga menambah beban biaya bagi produsen baterai.

Kenaikan harga grafit, baik sintetis maupun alami, memperparah kondisi industri kendaraan listrik. Sebelumnya, biaya produksi baterai sudah tertekan akibat gangguan pasokan mineral penting lainnya seperti nikel, kobalt, dan sulfur.