Berita

Ahmed Rebut Senjata Penembak di Australia: Aksi Heroik Selamatkan Banyak Nyawa

84
×

Ahmed Rebut Senjata Penembak di Australia: Aksi Heroik Selamatkan Banyak Nyawa

Sebarkan artikel ini
243f9018da239ecc35f0d95f446d8909.jpg
243f9018da239ecc35f0d95f446d8909.jpg

Sydney – Aksi teror yang mengguncang Pantai Bondi, Australia, pada Minggu, 14 Desember 2025, menewaskan 15 orang dan melukai puluhan lainnya, terutama menargetkan komunitas Yahudi yang tengah merayakan Hanukkah. Di tengah kepanikan tersebut, keberanian luar biasa ditunjukkan oleh seorang pria Muslim bernama Ahmed al Ahmed, 43 tahun, yang berhasil melumpuhkan salah satu pelaku penembakan, sebuah tindakan yang diyakini menyelamatkan banyak nyawa.

Rekaman video berdurasi 15 detik yang beredar luas di media sosial menunjukkan Ahmed, seorang penjual buah, bersembunyi di balik mobil-mobil yang terparkir sebelum melesat ke arah pelaku dari belakang. Tanpa senjata, ia mencengkeram leher pelaku, merebut senapan, dan menjatuhkannya ke tanah, lalu mengarahkan senjata itu kembali kepada si penyerang.

Insiden tragis ini menyebabkan 15 orang tewas, termasuk seorang warga negara Israel, dan 29 orang dilarikan ke rumah sakit, salah satunya adalah seorang anak kecil. Serangan brutal ini terjadi saat ratusan orang berkumpul untuk memperingati hari pertama Hanukkah.

Ahmed al Ahmed sendiri menderita dua luka tembak selama serangan tersebut dan segera dijadwalkan untuk menjalani operasi malam itu juga. Ia dilaporkan tidak memiliki pengalaman dengan senjata api dan hanya sedang berjalan melewati area kejadian ketika memutuskan untuk bertindak.

Aksi heroik Ahmed sontak menuai pujian luas di seluruh Australia. Perdana Menteri Anthony Albanese bahkan secara langsung menyebutnya sebagai “pahlawan” atas keberanian dan reaksi cepatnya yang telah mencegah lebih banyak korban berjatuhan.

Kepolisian New South Wales (NSW) mengidentifikasi kedua terduga pelaku sebagai Sajid Akram dan anaknya, Naveed Akram. Sajid Akram tewas di lokasi kejadian, sementara Naveed Akram dilaporkan menderita luka-luka dan saat ini dalam kondisi kritis di rumah sakit. Pihak berwenang telah menyatakan insiden ini sebagai aksi terorisme.

Komisaris Polisi NSW Mal Lanyon mengungkapkan pada Senin pagi bahwa Sajid Akram telah memiliki izin kepemilikan senjata api selama 10 tahun terakhir. “Dia memiliki enam senjata api yang berlisensi atas namanya. Kami yakin bahwa kami telah menyita keenam senjata api tersebut dari lokasi kejadian kemarin,” kata Lanyon. Ia juga menambahkan bahwa polisi meyakini hanya ada dua orang yang terlibat langsung dalam serangan tersebut.