Pontianak – Penyaluran BBM di Kalimantan Barat diklaim aman dan terkendali. Meski ada kendala operasional, langkah percepatan disiapkan.
Hal ini disampaikan Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho. Tujuannya, agar suplai ke masyarakat tetap terjaga.
Fathul menjelaskan gangguan terjadi akibat pendangkalan Sungai Kapuas. Ini menyebabkan kapal tanker BBM kandas di Fuel Terminal (FT) Sanggau dan Sintang.
“Terkait dengan distribusi BBM untuk Kalimantan Barat ini ada sedikit gangguan,” ujarnya saat ditemui di Integrated Terminal (IT) Pontianak, Selasa (17/2/2026).
Pertamina Patra Niaga (PPN) telah menyiapkan skema alternatif dan emergency suplai.
Salah satunya, pemanfaatan tongkang terapung (floating barge) sebagai jetty sementara. Bongkar muat dari kapal tanker bisa langsung ke mobil tangki.
PPN juga diminta menyusun tenggat waktu yang terukur untuk solusi permanen.
Langkah ini bagian dari penataan infrastruktur hilir migas. Tujuannya agar lebih adaptif terhadap perkembangan demografi, wilayah, dan perubahan alam.
Sejumlah fasilitas yang beroperasi puluhan tahun akan direvitalisasi. Ini untuk memperkuat ketahanan energi dan menjaga ketersediaan stok.
“Memang beberapa FT kita ini dibangun sekitar tahun 1970-1980, artinya sudah cukup tua,” kata Fathul.
Dirjen Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menyatakan koordinasi lintas sektor diperkuat. Sinergi dengan Kemenhub dan Pemda dinilai penting.
Wakil Direktur Utama PPN, Taufik Aditiyawarman, menegaskan penyediaan dan pendistribusian BBM tidak boleh terhenti.
BPH Migas juga meninjau SPBU di Kabupaten Sanggau. Fathul berdialog dengan masyarakat dan memastikan pelayanan normal.
Total mobil tangki yang disiagakan untuk menyuplai seluruh wilayah Kalimantan berjumlah sekitar 740 unit.
“Pemerintah bekerja keras untuk memastikan suplai dan juga stok BBM aman dan lancar,” pungkasnya.













