Surabaya – Ratusan jagal sapi dari Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian menggelar unjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Surabaya, Senin (12/1). Mereka menolak relokasi ke RPH Tambak Osowilangun (TOW) karena khawatir kehilangan mata pencaharian.
Para jagal bahkan membawa sapi dalam aksi demonstrasi tersebut.
Kukuh, salah satu orator, menegaskan RPH Pegirian adalah “nyawa” mereka.
“Kalau dipindah, sama saja mematikan penghidupan kami,” teriaknya.
Pedagang daging sapi dari Pasar Arimbi juga ikut aksi. Mereka khawatir relokasi akan berdampak pada distribusi dan kualitas daging.
“Akses ke Tambak Osowilangun terlalu jauh. Biaya operasional naik dan kesegaran daging bisa terganggu,” kata Luluk, seorang pedagang.
Abdullah Mansyur, perwakilan jagal, menuntut Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi membatalkan kebijakan relokasi.
Ia juga meminta pencabutan Surat Edaran (SE) yang berisi daftar jagal yang dipindahkan. Pihaknya mengancam mogok kerja jika tuntutan tidak dipenuhi.
Abdullah menyebut ada sekitar 50 jagal yang bekerja di RPH Pegirian.
“Total para jagal sekitar 35 sampai 50 orang. Mereka menyuplai semua pasar-pasar tradisional dari Surabaya, hampir di Jawa Timur (Jatim) dan secara nasional,” ujarnya.
“Mulai dari hari ini kita pastikan tidak akan ada peredaran daging sapi ke Kota Surabaya. Ini menjadi alarm terhadap pemerintah kota, provinsi dan nasional,” tambahnya.
Mogok kerja ini, menurutnya, bisa berdampak besar pada kebutuhan daging di pasar.
RPH Pegirian berada di Kecamatan Semampir, Surabaya utara. Sementara, Tambak Osowilangun berada di Kecamatan Benowo, Surabaya barat, sekitar 15 kilometer atau 35 menit perjalanan.
Wakil Ketua DPRD Surabaya, Arif Fatoni, berjanji akan memfasilitasi dialog antara jagal dan pihak terkait.
Direktur Utama PT Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya Perseroda, Fajar Arifianto Isnugroho, mengakui mogok kerja berdampak pada distribusi daging segar.
Namun, ia memastikan ketersediaan daging sapi masih aman. Fajar juga meminta maaf kepada masyarakat atas dampak aksi mogok.
Fajar menegaskan stok daging sapi di Surabaya masih mencukupi dan pemotongan sapi masih berjalan di unit RPH Kedurus.
Ia juga memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh daging sapi melalui outlet resmi RPH Surabaya maupun pasar tradisional lain.
Fajar menegaskan yang berpindah hanyalah lokasi pemotongan, bukan pusat perdagangan daging. Pasar Arimbi tetap berada di Pegirian.
Manajemen RPH Surabaya memberikan waktu hingga akhir Idulfitri 2026 bagi jagal Pegirian untuk memaksimalkan fasilitas lama. Setelah itu, seluruh aktivitas pemotongan akan dialihkan ke RPH TOW.
Menurut Fajar, langkah ini dilakukan untuk memastikan kesiapan teknis dan operasional RPH TOW.
Kebutuhan daging sapi di Surabaya mencapai sekitar 40 ton per hari, dengan separuhnya dipenuhi dari pemotongan di RPH Surabaya.
Fajar menegaskan pihaknya tetap memprioritaskan jagal Pegirian untuk beroperasi di RPH TOW. Ia juga mengakui adanya minat dari jagal luar daerah.
Menurut Fajar, RPH TOW secara fasilitas telah siap beroperasi dan lebih modern. Dalam sepekan ke depan RPH Surabaya akan melakukan pemotongan mandiri untuk menjaga pasokan.
Pihaknya berharap aksi mogok tidak berlarut-larut karena berpotensi merugikan para jagal sendiri.







