Life

Maskapai AS Imbau Penumpang Berpakaian Sopan Demi Kenyamanan Terbang

109
×

Maskapai AS Imbau Penumpang Berpakaian Sopan Demi Kenyamanan Terbang

Sebarkan artikel ini
426b0d74548d8b52f262c530c7b864ea.jpg
426b0d74548d8b52f262c530c7b864ea.jpg

Newark, New Jersey – Tingkat gangguan perilaku di dalam pesawat yang melonjak drastis hingga 400 persen sejak 2019 menjadi pemicu utama Menteri Transportasi Amerika Serikat, Sean Duffy, meluncurkan kampanye kesopanan. Salah satu poin kontroversial dari inisiatif ini adalah seruan bagi para penumpang pesawat untuk berhenti mengenakan piyama saat bepergian, sebagai langkah awal mengembalikan etika dan kenyamanan di udara, terutama menjelang musim libur akhir tahun.

Dalam pernyataan yang disampaikan di Bandara Internasional Newark, New Jersey, Duffy menekankan pentingnya berpenampilan yang layak sebagai fondasi budaya sopan santun. Ia menyarankan masyarakat untuk memilih pakaian yang pantas, seperti celana jins dan kemeja. “Mari kita coba untuk tidak memakai sandal dan piyama saat datang ke bandara. Saya pikir itu hal positif,” ujarnya, menurut laporan Fox News Digital. Duffy percaya, cara berpakaian yang lebih baik dapat mendorong perilaku yang lebih baik pula.

Imbauan Duffy muncul di tengah data mengkhawatirkan dari Badan Penerbangan Federal (FAA) yang menunjukkan peningkatan signifikan perilaku mengganggu hingga tindak kekerasan di kabin pesawat. Serikat pekerja pramugari pada tahun 2021 bahkan mengungkapkan, hampir satu dari lima pramugari mengaku pernah menjadi korban insiden fisik saat bertugas. Sepanjang tahun 2024, angka penumpang berperilaku tidak tertib juga masih bertahan di atas level pra-pandemi.

Dari perspektif etiket, Diane Gottsman, pakar dan pendiri Protocol School of Texas di San Antonio, menjelaskan bahwa piyama seharusnya hanya dikenakan di rumah atau kamar hotel pribadi, bukan di ruang publik. Fenomena penggunaan piyama di bandara sendiri semakin marak, sebagian dipengaruhi oleh selebriti seperti Ed Sheeran atau Rihanna yang pernah terlihat mengenakan pakaian tidur di tempat umum.

Jacqueline Whitmore, seorang mantan pramugari senior yang kini mendirikan Sekolah Protokol Palm Beach, mendukung pandangan ini. Ia menegaskan bahwa cara seseorang berpakaian di pesawat secara nyata memengaruhi perilakunya selama penerbangan, merujuk pada konsep psikologi enclothed cognition atau kognisi terselubung. “Pakaian yang kita kenakan tidak hanya memengaruhi persepsi orang lain terhadap kita, tetapi juga cara kita memandang diri sendiri,” katanya. Pengalamannya bertugas di kabin pesawat menunjukkan pola konsisten tersebut.

Namun, fokus Duffy pada etika berpakaian justru menuai kritik dari banyak pengguna media sosial. Para pelancong ini berpendapat bahwa pengalaman perjalanan udara saat ini terasa lebih menegangkan karena masalah kerumunan, biaya tinggi, penundaan, dan pemeriksaan keamanan yang ketat, bukan karena pakaian penumpang. Mereka menyarankan Duffy untuk lebih memfokuskan perhatiannya pada isu-isu struktural tersebut.

“Ini bukan era 50-an ketika terbang terasa sangat menyenangkan. Sekarang kita terhimpit seperti ternak dan rasanya hampir seburuk naik bus,” tulis pengguna Bluesky, Terri De, seperti diunggah di Euronews. Pengguna Bluesky lainnya menambahkan, “Selama ada kemungkinan besar saya tidur di lantai bandara karena penundaan penerbangan, saya akan pakai apa pun yang saya mau.” Komentar-komentar ini menyoroti bahwa bagi banyak pelancong modern, kenyamanan dan kepraktisan seringkali menjadi prioritas utama di tengah tantangan perjalanan yang ada.

89cdc83b2ef262c6a983d187cdd9fc78.jpg
Life

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penyaluran kredit kendaraan bermotor (KKB) terus mengalami perlambatan tahun ini. Usai meningkatnya bunga acuan (BI Rate) ke level 5,5%, perlambatan KKB dikhawatirkan akan terus berlanjut. Data Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran KKB pada beberapa bulan terakhir ini masih mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan periode sama di tahun lalu. Misalnya pada April 2026, BI mencatat penyaluran KKB terkontraksi 9%…