Medan – Bencana banjir, banjir bandang, dan tanah longsor melanda wilayah Sumatra bagian utara dalam sepekan terakhir, mengakibatkan sedikitnya 34 orang tewas dan 52 lainnya hilang. Ribuan penduduk juga terpaksa mengungsi akibat dampak dahsyat bencana ini. Menurut para pakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), bencana hebat kali ini disebabkan oleh tiga faktor utama: kondisi atmosfer, geospasial, dan kapasitas daya tampung wilayah.
Ketua Program Studi Meteorologi ITB, Muhammad Rais Abdillah, menjelaskan bahwa karakteristik curah hujan di Sumatra bagian utara berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Wilayah ini mengalami pola hujan sepanjang tahun atau dua puncak hujan dalam satu tahun, dan saat ini sedang berada pada puncaknya.
Rais menerangkan, kondisi ini sebelumnya telah dipetakan oleh peneliti di mana Sumatra Utara termasuk dalam Region B. Cirinya adalah pola hujan ekuatorial dengan dua puncak musim hujan pada periode ekuinoks sekitar Maret dan Oktober. Karakteristik ini menunjukkan bahwa wilayah tersebut mengalami musim hujan hampir sepanjang tahun dengan variabilitas hujan yang tinggi.
Mengutip data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), intensitas hujan lebih dari 150 milimeter per hari dikategorikan sebagai hujan ekstrem. Rais membandingkan kondisi di Sumatra Utara pada akhir November 2025 ini dengan curah hujan 370 mm yang terjadi ketika Jabodetabek dilanda banjir besar awal Januari 2020 lalu, yang memiliki karakteristik curah hujan mendekati peristiwa tersebut.
Lebih lanjut, hasil visualisasi pola angin pada 24 November 2025 pukul 22.00 WIB menunjukkan adanya pusaran angin (vortex) di sekitar wilayah barat Sumatra Utara. Kondisi ini mengindikasikan sistem tekanan rendah dan awal perkembangan Siklon Tropis Senyar.
Pola angin ini memperkuat suplai uap air dan pembentukan awan hujan, sehingga meningkatkan potensi hujan ekstrem di wilayah tersebut. Meskipun Siklon Tropis Senyar tidak terlalu kuat seperti siklon di Samudra Hindia atau Pasifik, sistem ini cukup untuk meningkatkan suplai uap air, memperkuat pembentukan awan hujan, dan memperluas cakupan hujan di Sumatra bagian utara.
Rais juga mengungkap adanya pengaruh fenomena atmosfer skala meso dan sinoptik, seperti vortex siklonik dan indikasi cold surge vortex. Embusan angin kuat dari utara ini membawa massa udara lembap serta memperkuat pembentukan awan hujan. Semua kondisi ini memicu peningkatan intensitas hujan dan memperbesar risiko banjir di wilayah Sumatra Utara.
Sementara itu, Dosen Program Studi Teknik Geodesi dan Geomatika ITB, Heri Andreas, mengatakan bahwa persoalan banjir tidak hanya tentang hujan. Melainkan juga tentang bagaimana air diterima, diserap, dan dikelola oleh permukaan bumi. Proporsi antara air yang meresap ke dalam tanah dan air yang mengalir di permukaan sangat bergantung pada tutupan lahan dan karakteristik tanah.
Kawasan dengan tutupan vegetasi alami seperti hutan dan rawa memiliki kemampuan serapan air yang jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah yang telah berubah fungsi menjadi permukiman, perkebunan, atau area terbuka tanpa vegetasi. Ketika kawasan tersebut terdegradasi, kemampuan infiltrasinya menurun signifikan dan menyebabkan peningkatan limpasan (runoff) yang jauh lebih besar.
Ketika kawasan penahan air alami hilang, wilayah tersebut kehilangan kemampuan menahan limpasan. Akibatnya, hujan yang turun langsung mengalir cepat ke sungai dan memicu banjir.
Menurut Heri, penataan ruang berbasis risiko, konservasi kawasan penahan air, dan pemodelan geospasial sangat penting untuk mitigasi jangka panjang. Perlindungan kawasan resapan air alami seperti hutan, rawa, dan sempadan sungai dinilai krusial untuk menjaga kapasitas wilayah dalam menyerap air dan mengurangi limpasan.







