Berita

Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Longsor di Sumut, 8 Orang Tewas

128
×

Cuaca Ekstrem Picu Banjir dan Longsor di Sumut, 8 Orang Tewas

Sebarkan artikel ini
9994b6d91297d2c214f9edac5dfadba1.jpg
9994b6d91297d2c214f9edac5dfadba1.jpg

Sumatera Utara – Cuaca ekstrem yang melanda Sumatera Utara selama dua hari terakhir memicu bencana banjir dan tanah longsor di empat kabupaten. Peristiwa ini terjadi di Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan, menyebabkan delapan orang meninggal dunia di Kabupaten Tapanuli Selatan dan 1.902 unit rumah terdampak banjir di Tapanuli Tengah.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, mengatakan bahwa banjir yang terjadi mengalir cukup deras. Arus air yang kuat menghantam rumah warga, menyeret kendaraan, dan merusak infrastruktur lain yang dilaluinya.

“Arus air juga membawa material seperti lumpur, batang pohon, puing bangunan, dan sampah rumah tangga,” kata Abdul melalui keterangan tertulisnya pada Rabu, 26 November 2025.

Laporan sementara yang dihimpun oleh Pusat Pengendalian Operasi BNPB per Rabu, 26 November 2025, pukul 07.00 WIB, menunjukkan dampak signifikan. Di Kabupaten Tapanuli Selatan, bencana banjir dan tanah longsor menewaskan delapan warga, melukai 58 orang, dan memaksa 2.851 warga mengungsi.

Kaji cepat sementara mengidentifikasi 11 kecamatan terdampak di Tapanuli Selatan, meliputi Sipirok, Marancar, Batangtoru, Angkola Barat, Muara Batangtoru, Angkola Sangkunur, Angkola Selatan, Sayur Matinggi, Batang Angkola, Tanah Timbangan, dan Angkola Muaratais.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tapanuli Selatan bersama tim gabungan telah mengerahkan alat berat untuk membersihkan material longsor yang menutup akses jalan warga.

Sementara itu, di Kabupaten Sibolga, hujan deras memicu banjir di Kelurahan Angin Nauli (Kecamatan Sibolga Utara), Kelurahan Aek Muara Pinang dan Aek Habil (Kecamatan Sibolga Selatan), serta Kelurahan Pasar Belakang dan Pasar Baru (Kecamatan Sibolga Kota).

Tanah longsor juga melanda beberapa wilayah Sibolga, antara lain Kelurahan Angin Nauli, Simare-mare, Sibolga Hilir, Hutabarangan, Huta Tonga, dan Sibual-buali (Kecamatan Sibolga Utara). Kemudian Kelurahan Parombunan dan Aek Mani (Kecamatan Sibolga Selatan), Kelurahan Pancuran Bambu, Pancuran Dewa, dan Pancuran Kerambil (Kecamatan Sibolga Sambas). Dampak longsor juga dirasakan di Kelurahan Pasar Belakang, Pasar Baru, dan Pancuran Gerobak (Kecamatan Sibolga Kota).

Dua Jembatan Putus

Abdul Muhari menambahkan, akibat cuaca ekstrem ini sebanyak 50 unit rumah terdampak dan dua jembatan terputus menyusul banjir dan tanah longsor di Kabupaten Tapanuli Utara. BPBD dan tim gabungan terus melakukan pendataan serta merekomendasikan jalur alternatif Pangaribuan-Silantom sebagai akses jalan sementara.

Di wilayah Tapanuli Tengah, 1.902 unit rumah terdampak banjir yang tersebar di sembilan kecamatan, yakni Pandan, Sarudik, Badiri, Kolang, Tukka, Lumut, Barus, Sorkam, dan Pinangsori. BPBD Tapanuli Tengah bersama tim gabungan telah mendirikan tenda pengungsian dan mendistribusikan bantuan sembako kepada warga terdampak.

“Seluruh pendataan seperti jumlah warga dan wilayah terdampak bersifat sementara. Data masih berpotensi mengalami perkembangan sesuai dari hasil kaji cepat lanjutan di lapangan,” ujar Abdul.

BNPB terus memonitor perkembangan situasi di wilayah Tapanuli Raya dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mempercepat penanganan darurat. Warga yang tinggal di sekitar lereng perbukitan, bantaran sungai, dan wilayah rawan longsor diimbau untuk segera mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman apabila hujan lebat mengguyur wilayah tempat tinggal lebih dari satu jam.