Life

Stres Ibu Hamil Pengaruhi Pertumbuhan Gigi Bayi dalam Kandungan

77
×

Stres Ibu Hamil Pengaruhi Pertumbuhan Gigi Bayi dalam Kandungan

Sebarkan artikel ini
b87aaddc520d8bea12a1b655c6149387.jpg
b87aaddc520d8bea12a1b655c6149387.jpg

Jakarta – Stres pada ibu hamil tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu seperti tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan risiko kelahiran prematur yang merupakan penyebab tertinggi kematian serta kecacatan bayi baru lahir. Namun, sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa stres juga dapat memengaruhi pertumbuhan gigi bayi.

Penemuan dari para ahli Universitas Rochester ini mengungkapkan bahwa bayi yang lahir dari ibu yang mengalami kelelahan dan stres cenderung memiliki gigi yang tumbuh lebih cepat dari biasanya.

Ying Meng, seorang profesor madya di Sekolah Keperawatan Universitas Rochester dan penulis studi terkait, menjelaskan bahwa kadar hormon stres yang lebih tinggi pada seorang ibu, terutama kortisol, selama akhir kehamilan berhubungan dengan erupsi gigi sulung yang lebih awal pada bayinya.

Studi yang baru-baru ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Frontiers in Oral Health ini melibatkan pengumpulan sampel air liur dari 142 perempuan kurang mampu pada trimester kedua dan ketiga kehamilan mereka. Sampel tersebut digunakan untuk mengukur kadar kortisol, progesteron, testosteron, dan hormon lainnya.

Setelah itu, bayi-bayi yang baru lahir cukup bulan tersebut menjalani kunjungan gigi pada usia 1, 2, 4, 6, 12, 18, dan 24 bulan. Hasil studi menunjukkan bahwa pada usia 6 bulan, sekitar 15 persen bayi sudah memiliki satu hingga enam gigi. Sementara itu, pada usia 12 bulan, hampir 98 persen bayi telah memiliki hingga 12 gigi.

Temuan penting lainnya adalah bahwa bayi dari ibu dengan kadar kortisol tertinggi dalam air liur mereka rata-rata memiliki empat gigi lebih banyak pada usia 6 bulan dibandingkan dengan bayi dari ibu yang memiliki kadar kortisol paling rendah.

Hormon kortisol, yang sering disebut hormon stres, tidak hanya memicu respons “lawan atau lari” tetapi juga dapat berdampak negatif pada pertumbuhan tulang, terutama pada bayi yang sedang berkembang. Kortisol ibu yang tinggi selama akhir kehamilan berpotensi mengubah pertumbuhan janin dan metabolisme mineral, termasuk pengaturan kadar kalsium dan vitamin D, yang sangat vital untuk mineralisasi tulang dan gigi.

Selain itu, kortisol juga memengaruhi aktivitas sel osteoblas dan osteoklas, yaitu sel-sel yang bertanggung jawab dalam pembangunan, pembentukan, dan perombakan tulang. Meskipun gigi yang tumbuh lebih awal umumnya tidak perlu dikhawatirkan, orang tua baru disarankan untuk mewaspadai tanda-tanda ketidaknyamanan pada bayi mereka.

Tanda-tanda tumbuh gigi yang menimbulkan ketidaknyamanan pada bayi biasanya meliputi gusi bengkak dan kemerahan, banyak mengeluarkan air liur (mengeces), sering memasukkan tangan atau benda ke mulut, rewel, susah tidur, dan hilang nafsu makan. Selain faktor hormon, aspek lain seperti genetika, nutrisi, berat lahir, dan usia ibu juga turut memengaruhi kapan gigi “susu” ini muncul.

89cdc83b2ef262c6a983d187cdd9fc78.jpg
Life

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penyaluran kredit kendaraan bermotor (KKB) terus mengalami perlambatan tahun ini. Usai meningkatnya bunga acuan (BI Rate) ke level 5,5%, perlambatan KKB dikhawatirkan akan terus berlanjut. Data Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran KKB pada beberapa bulan terakhir ini masih mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan periode sama di tahun lalu. Misalnya pada April 2026, BI mencatat penyaluran KKB terkontraksi 9%…