Life

Pengembangan Obat Bahan Alam: Indonesia Hadapi Tantangan Signifikan

119
×

Pengembangan Obat Bahan Alam: Indonesia Hadapi Tantangan Signifikan

Sebarkan artikel ini
664f78800d8ac064b50244f7518cf135.jpg
664f78800d8ac064b50244f7518cf135.jpg

Jakarta – Pengembangan obat bahan alam di Indonesia menghadapi tantangan signifikan, terutama karena belum masuknya produk tersebut dalam Formularium Nasional pada Program Jaminan Kesehatan. Kondisi ini terbentur Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 54 Tahun 2018 tentang Penyusunan dan Penerapan Formularium Nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Raymond Tjandrawinata, Director of Business Development and Scientific Affairs PT Dexa Medica, dalam keterangannya pada 20 Oktober 2025. Raymond menyoroti ironi ini, mengingat sistem pengobatan seperti Ayurveda dan Unani telah digunakan dalam Sistem Jaminan Kesehatan Nasional di India.

Ayurveda adalah sistem pengobatan holistik dari India, sementara Unani berasal dari Yunani kuno dan berkembang di India, keduanya berfokus pada penggunaan herbal dan mineral. Raymond menambahkan, “Bahkan ada rumah sakit berbasis Unani dan Ayurveda di India, di China, Korea, di Jepang ada semua. Indonesia dengan biodiversitas alam nomor dua dunia, (justru) belum ada.”

Sebelumnya, delegasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) melakukan kunjungan ke Dexa Laboratories of Biomolecular Sciences (DLBS). Kunjungan ini bertujuan meninjau langsung penerapan riset farmasi berbasis biodiversitas Indonesia untuk pengembangan Obat Modern Alami Integratif (OMAI).

Raymond Tjandrawinata memaparkan perjalanan DLBS dalam pengembangan obat berbahan alam sejak tahun 2005. Bahan baku yang digunakan tidak hanya berasal dari tumbuhan, tetapi juga dari hewan, seperti produk Disolf yang dikembangkan dari cacing tanah (Lumbricus rubellus) untuk membantu melancarkan sirkulasi darah.

Raymond mengklaim sudah banyak dokter spesialis saraf dan jantung yang meresepkan produk herbal dari Dexa Medica. “Sebagian besar fitofarmaka di sini diresepkan oleh dokter. Tidak hanya digunakan di Indonesia, tetapi juga diekspor ke beberapa negara ASEAN dan beberapa negara lainnya,” katanya.

DLBS mengintegrasikan teknologi 4.0 dalam setiap tahapan riset dan pengembangan produk, mulai dari penemuan bahan aktif berbasis Tandem Chemistry Bioassay System (T-CEBS) hingga pemantauan kualitas produk setelah diproduksi. Pengembangan produk obat modern asli Indonesia (OMAI) sangat saintifik sehingga dapat dibuktikan secara klinis.

“Ketika kami masuk ke tahap uji klinis, kita perlu memiliki bukti ilmiah. Dengan pendekatan tersebut, akan lebih mudah memperoleh data yang baik pada fase klinis, dan berdasarkan pengalaman tersebut, jika desainnya baik mulai dari bahan baku aktif hingga produk jadi, maka produk herbal berbasis keanekaragaman hayati tidak kalah kualitasnya dibandingkan produk kimia,” ujar Raymond.

Dalam WHO Global Traditional Medicine Strategy 2025–2034, salah satu dari empat tujuan utama adalah fokus pada regulasi. Pradeep Dua, dari WHO-IRCH Secretariat, mengungkapkan bahwa regulasi ini tidak hanya membahas produk, melainkan juga mengatur masalah praktik dan praktisi pengobatan tradisional, komplementer, dan integratif. Pertemuan ini menjadi ajang yang tepat untuk memperkuat sistem regulasi obat bahan alam tersebut.

Ketua International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (IRCH), Sungchol Kim, dalam sambutannya pada The 16th Annual Meeting of the WHO–IRCH, juga menyinggung tujuan utama strategi WHO tersebut, yaitu pembangunan basis bukti yang kuat untuk pengobatan tradisional, komplementer, dan integratif (TCIM). Penting pula untuk menyiapkan pengembangan peraturan yang tepat demi keamanan dan efektivitas. Kim mengajak semua peserta untuk berdiskusi aktif dan bertukar pengetahuan di bidang obat bahan alam demi kepentingan masyarakat.

89cdc83b2ef262c6a983d187cdd9fc78.jpg
Life

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penyaluran kredit kendaraan bermotor (KKB) terus mengalami perlambatan tahun ini. Usai meningkatnya bunga acuan (BI Rate) ke level 5,5%, perlambatan KKB dikhawatirkan akan terus berlanjut. Data Bank Indonesia (BI) mencatat penyaluran KKB pada beberapa bulan terakhir ini masih mengalami perlambatan jika dibandingkan dengan periode sama di tahun lalu. Misalnya pada April 2026, BI mencatat penyaluran KKB terkontraksi 9%…